Berdasarkan batasan di atas paling tidak ada tiga hal yang menjadi fokus utama yang ingin dicapai oleh tujuan tadi, yaitu:
Pertama, mengembangkan potensi diri peserta didik agar peka terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Pada tataran ini guru sangat diharapkan sebelum merencanakan pembelajaran harus memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang persoalan-persoalan sosial di lingkungannya.
Kedua, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi.
Pada tataran ini guru sangat diharapkan untuk mampu membangun pemikiran positif peserta didik untuk sama-sama memecahkan masalah sosial yang ada. Dengan pemikiran positif ini diharapkan tidak akan muncul pemikiran mencari kambing hitam, menyalahkan, kemudian tidak menemukan jalan keluar dari persoalan sosial.
Ketiga, melatih keterampilan peserta didik untuk mengatasi masalah, baik yang menimpa diri maupun masyarakat.
Pada tataran ini guru diharapkan mampu memberikan bimbingan dengan cara model pemecahan masalah kepada peserta didik. Jika dimungkinkan melalui simulasi-simulasi sosial dalam proses pembelajaran.
Memperhatikan tujuan di atas tampak bahwa untuk mencapainya sangat diperlukan kreatifitas guru dan kepekaan guru terhadap masalah-masalah sosial lingkungannya. Juga kita bisa membayangkan bagaimana dinamisnya materi bahan ajar yang ada pada subyek pembelajaran.
PENDEKATAN KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Sebelum membicarakan pendekatan konsep, sebaiknya kita lihat terlebih dahulu substansi dari Ilmu Pengetahuan Sosial, yaitu merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hkum, dan budaya. Ilmu pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realita dan fenomena sosial dengan mengorientasikan kajiannya berpola pada pendekatan interdisipliner dari seluruh cabang ilmu sosial.
IPS sebagai suatu studi sosial merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang isi materinya diturunkan dari isi materi sejumlah ilmu-ilmu sosial, diantaranya; sosiologi, sejarah, geografi, antropologi, politik, filsafat, dan psikologi sosial. Namun demikian ada empat bidang ilmu yang memiliki keterpaduan tinggi melahirkan Ilmu Pendidikan Sosial, yaitu Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Antropologi. Jika keempatnya digambarkan akan tampak sebagai berikut:

Geografi Sejarah

Sosiologi
Antropologi
Ilmu Pengetahuan Sosial
Pembelajaran Geografi memberikan penekanan pada kajian kewilayahan, sedangkan Sejarah memberikan penekanan pada peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian penting pada periodesasi tertentu. Pembelajaran Antropologi memberikan sumbangan pada studi-studi tata nilai, kepercayaan, dan keagamaan. Untuk sosiologi kontribusinya lebih pada struktur sosial, perubahan sosial, interaksi sosial dan lainnya.
Keterkaitan antarbidang ilmu yang memunculkan Ilmu Pengetahuan Sosial itu menunjukkan bahwa dalam studi sosial kita tidak dapat mengandalkan satu bidang ilmu saja, akan tetapi harus integratif dengan bidang ilmu lain, guna mendapatkan suatu kajian yang luas dan mendalam. Hal ini juga bertolak dari pemikiran kajian ilmu sosial pengetahuan yang berfokus kepada perilaku manusia, baik secara individual maupun kelompok, adalah sulit hanya mengandalkan satu bidang ilmu saja.
Kajian antarbidang di atas maka mengokohkan posisi Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu sebagai suatu kajian tersendiri dan memerlukan pemahaman akan karakteristik dari Ilmu Pengetahuan Sosial. Beberapa ahli memberikan batasan tentang ini.
KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Beberapa ahli memberikan batasan tentang karakteristik ini diantaranya adalah:
Pertama, Ilmu pengetahuan sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan, dan agama (Nukman Soemantri, 2001).
Kedua, standar kompetensi dan kompetensi dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.
Ketiga, standar kompetensi dan kompetensi dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yangdirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.
Keempat, standar kompetensi dan kompetensi dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan hidup, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).
Kelima, standar kompetensi dan kompetensi dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Adapun dimensi tadi yaitu meliputi dimensi ruang, dimensi waktu, dan nilai/norma. Dimensi ruang menunjuk kepada dimana peristiwa itu terjadi. Dimensi waktu menunjuk kepada bila peristiwa itu terjadi, dan dimensi nilai/norma menunjuk kepada kaidah atau tatalaku dari para pelaku peristiwa tadi.
PENDEKATAN PEMBELAJARAN IPS TERPADU
Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering juga disebut dengan pendekatan interdisipiner. Model pembelajaran terpadu pada hakekatnya adalah merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individu maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996). Salah satu dasar diantaranya ialah dengan cara memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk merespons semuainformasi yang berkaitan dengan apa yang dipelajarinya. Dengan demikian peserta didik terbiasa dengan menemukenali konsep yangdipelajari secara mandiri.
Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu dapat saja mengambil suatu topik tertentu dari cabang ilmu sosial tertentu, kemudian dilengkapi dan dibahas, serta diperluas atau diperdalam dengan cabang ilmu sosial lainnya. Topik atau tema dapat saja diambil dari fenomena yang ada di dalam masyarakat yang sedang hangat dibicarakan banyak kalangan. Untuk itu kita dapat merinci sejumlah pendekatan pembelajaran IPS terpadu sebagai berikut:
1. Model Integrasi IPS berdasarkan topik/tema
Adanya
Kekacauan Persebaran
suatu daerah secara kewilayaan
berakibat daerah wisata
pada keadaan




SEJARAH GEOGRAFI
PENGEMBANGAN
PARIWISATA
SOSIOLOGI EKONOMI
|
|
sosial ekonomi
dan politik
Perubahan sosial Uang dan
Budaya pada sebaran lembaga
masyarakat keuangan
Keterpaduan dalam Topik/Tema ternyata melahirkan sejumlah kajian dari disiplin ilmu yang beragam dengan pisau analisis yang tajam dari masing-masing sub tema yang dapat dilahirkan dari satu tema besar.
2. Model Integrasi berdasarkan potensi utama
Peta wilayah Bentuk-bentuk
Yang menggambarkan interaksi sosial


kan obyek geografis yang berkembang
Perkembangan Gagasan mengembang
Masyarakat kan ekonomi untuk
Dilihat dari memenuhi kebutuhan
Budaya hidup masyarakat
Untuk mandiri
Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam IPS.
3. Model integrasi berdasarkan pemasalahan


Faktor
Sosial Budaya Faktor Ekonomi

Perilaku dalam Faktor kesejarahan
merespons aturan
Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya PEMUKIMAN KUMUH. Pada IPS terpadu pemukiman kumuh dapat ditinjau dari berbagai faktor, diantaranya faktor sosial budaya (Antropologi), faktor ekonomi (Ekonomi), faktor perilaku dalam merespons aturan (Sosiologi), faktor kesejarahan (Sejarah).
STRATEGI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPS TERPADU
A. Perencanaan
Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu sangat tergantung kepada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi serta potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk itu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Melakukan Pemetaan Kompetensi Dasar
Cara yang dapat ditempuh ialah :
a. mengidentifikasi beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai
Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan.
b. beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan,
jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran, sebaik
nya yang demikian ini disajikan tersendiri
c. Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Stan
dar Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas
yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kom-
petesi Dasar saja. (Atas dasar analisis kebutuhan siswa )
d. Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam topik/tema masih
dapat dipetakan dengan topik/tema lainnya.
2. Menentukan tema/topik pengikat antarStandar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar.
3. Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam indikator yang sesuai
dengan topik/tema
4. Penyusunan desain/rencana pelaksanaan pembelajaran/ skenario
pembelajaran
Ada sejumlah hal yang dapat jadi perhatian kita semua bahwa kegiatan 1 s/d 4 di atas tidak dapat dilakukan secara mendadak, akan tetapi harus dikerjakan oleh para guru Tim IPS terpadu paling tidak satu bulan sebelum tahun pelajaran dimulai. Yaitu dengan cara merumuskan bersama tema yang akan ditampilkan pada semester berjalan yang akan datang.
Berikut ini contoh bagaimana memetakan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan/diintegrasikan:
PETA KOMPETENSI DASAR
YANG BERPOTENSI DIJADIKANTOPIK
PADA IPS TERPADU
|
GEOGRAFI
|
SOSIOLOGI
|
EKONOMI
|
SEJARAH
|
TEMA
|
|
mendeskrip
|
1. mengiden-
|
1. mendes-
|
1. mendes-
|
|
|
sikan pola
|
tifikasi ben-
|
kripsikan
|
kripsikan
|
KEGI-
|
|
kegiatan eko
|
tuk-bentuk
|
kegiatan po-
|
perkembang
|
ATAN
|
|
nomi pendu
|
interaksi
|
kok eknmi
|
an masyara
|
EKONO-
|
|
duk, penggu
|
sosial
|
yang melipu
|
kat, kebuda
|
MI
|
|
naan lahan
|
|
ti kegiatan
|
yaan, dan
|
PEN-
|
|
dan pola pe-
|
2. mengurai-
|
konsumsi,
|
pemerinta-
|
DUDUK
|
|
mukiman
|
kan proses
|
produksi,
|
han pada
|
|
|
berdasarkan
|
interaksi
|
dan distri
|
masa Hindu
|
|
|
kondisi fisik
|
sosial
|
busi barang
|
Budha,
|
|
|
permukaan
|
|
jasa
|
serta pe-
|
|
|
|
|
|
ninggalan2
|
|
|
|
|
2. mendes-
|
nya.
|
|
|
|
|
kripsikan
|
|
|
|
|
|
kegiatan po-
|
2.mendes-
|
|
|
|
|
kok ekono
|
kripsikan
|
|
|
|
|
mi, yang
|
perkembangan
|
|
|
|
|
meliputi ke-
|
masyarakat,
|
|
|
|
|
giatan kon-
|
kebudayaan,
|
|
|
|
|
sumsi, pro-
|
dan pemerin-
|
|
|
|
|
duksi, dan
|
tahan pada
|
|
|
|
|
barang/jasa
|
masa Islam
|
|
|
|
|
|
di Indonesia
|
|
|
|
|
3.mendes-
|
serta pening-
|
|
|
|
|
kripsikan
|
galannya
|
|
|
|
|
peran badan
|
|
|
|
|
|
usaha terma
|
3.mendeskrip-
|
|
|
|
|
suk kopera-
|
sikan perkem
|
|
|
|
|
si, sebagai
|
bangan masya
|
|
|
|
|
Tempat ber
|
rakat, kebu-
|
|
|
|
|
langsungnya
|
dayaan, dan
|
|
|
|
|
proses pro-
|
pemerintahan
|
|
|
|
|
duksi dalam
|
pada masa
|
|
|
|
|
kaitannya
|
kolonial
|
|
|
|
|
dengan
|
Eropa.
|
|
|
|
|
pelaku
|
|
|
|
|
|
ekonomi.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Indikator yang dikeluarkan harus sesuai dengan Tema yang dimunculkan, karena hal ini sekaligus sebagai acuan untuk menetapkan jenis evaluasi dan menetapkan ranah mana yang menjadi domain bagi evaluasi tersebut. Sekedar contoh dapat kita tampilkan sbb:
TOPIK : Kegiatan Ekonomi Penduduk
Geografi :
Standar Kompetensi Dasar (lihat kurikulum/di atas)
Kompetensi Dasar …………………………………….
(Lihat Kurikulum)
Indikator : ……………………………………
( Bersumber dari kesepakatan Tim Guru dengan mengacu
pada buku acuan/ refrensi )
Petakan kisi-kisi soal melalui tabel berikut sesuai dengan ranah yang dituntut oleh SK, KD dan Indikator:
|
KOGNITIF
|
AFEKTIF
|
PSIKOMOTOR
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Contoh Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) IPS
Terpadu
Mata Pelajaran : …………………………………………
Satuan Pendidikan : …………………………………………
Kelas / Semester : ………………………………………….
Topik/Tema : ………………………………………….
Alokasi Waktu : …………………………………………..
a. Kompetensi Dasar dan Indikator
b. Tujuan Pembelajaran
c. Metode Pembelajaran
d. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan I
|
Tahap
|
Kegiatan
|
Alokasi Waktu
|
|
Kegiatan Awal
|
………………………..
|
|
|
Kegiatan Inti
|
………………………..
|
|
|
Penutup
|
………………………..
|
|
Pertemuan II
|
Tahap
|
Kegiatan
|
Alokasi Waktu
|
|
Kegiatan Awal
|
………………………..
|
|
|
Kegiatan Inti
|
………………………..
|
|
|
Penutup
|
………………………..
|
|
e. Sumber, Alat, dan Media Pembelajaran
………………………………………………………….
f. Penilaian
. Teknik
. Bentuk Instrumrn
Padang , …………………………………….. 2009
Guru Pengampu
1. ………………………………… Bidang Geografi
2. …………………………………. Bidang Ekonomi
3. …………………………………. Bidang Sosiologi
4. ………………………………….. Bidang antropologi
Ketua Tim ……………………………………………………………
B. Model Pelaksanaan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (Awal)
Kegiatan pendahuluan pada dasarnya merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu.
Fungsi utama dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan suasana batin pada peserta didik untuk dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Karena waktu yang ada tidak lebih dari 5 – 10 menit, maka diharapkan guru dalam memanfaatkan waktu ini dengan baik dan bermutu.
Hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan dalam proses kegiatan awal ini, yaitu:
a. Apersepsi yaitu mengulas sedikit pelajaran yang lampau.
b. Penilaian awal
c. Absensi
d. Menumbuhkan kesiapan belajar.
2. Kegiatan Inti Pembelajaran
Kegiatan ini merupakan inti dari proses pembelajaran yang dibentangkan melibatkan siswa. Proses pembelajaran dapat berupa tatap muka di muka kelas, akan tetapi dapat juga non tatap muka. Namun ada satu kegiatan awal yang sering terlupakan yaitu memberi tahukan Kompetensi Dasar yang akan dicapai oleh peserta didik dengan materi yang akan dipelajari saat itu.
Hal lain yang perlu diingat ialah bahwa materi pembelajaran terpadu itu mengutamakan aktivitas yang berorientasi kepada aktivitas peserta didik. Guru lebih berperan sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik. Sebaliknya peserta didik dirangsang untuk menemukenali sendiri persoalan-persoalan sekitar tema yang menjadi bahan kajian saat itu.
Perubahan tingkah laku yang menjadi sasaran belajar pada akhisrnya harus tampak sesuai yang diinginkan pada waktu penyusunan rencana pembelajaran. Adapun strategi pembelajaran yang dilakukan dapat berupa kegiatan klasikal, kelompok, dan perorangan.
3. Kegiatan Akhir (Penutup) dan Tindak Lanjut
Kegiatan akhir di sini tidak dibatasi hanya menutup pelajaran, akan tetapi lebih pada penilaian hasil belajar peserta didik dan kegiatan tindak lanjut. Karena waktu yang tersedia relatif singkat, maka guru harus mengaturnya seefisien mungkin. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan pada kegiatan ini adalah:
a. Memberikan motivasi, menginformasikan tugas rumah jika ada,
mengulas materi yang dianggap sulit, dll
b. Mengemukakan rancangan topik yang akan dibahas untuk waktu
yang akan datang.
C. Penilaian
Obyek dalam penilaian pembelajaran terpadu mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan belajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik. Sedangkan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kreteria tertentu.
Hasil belajar tersebut pada hakekatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya. Hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.
Cakupan penilaian meliputi;
Teknik Penilaian
Yaitu merupakan cara yang digunakan dalam melaksanakan penilaian. Teknik-teknik yang dapat diterapkan meliputi Teknik Test yang cakupannya meliputi (1) Kuis, dan (2)Tes Harian.
Untuk Teknik Non Test, cakupannya meliputi observasi, angket, wawancara, dll
Bentuk Instrumen
Test meliputi, pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan dll
Non Test meliputi, panduan observasi, panduan wawancara dll
Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu
Idealnya pelaksanaan pendidikan IPS itu dipegang oleh seorang guru, yaitu Guru IPS. Namun perlu diingat bahwa latar belakang masing-masing guru berbeda. Ada yang dari Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, sehingga sulit sekali untuk beradaptasi ke dalam pengintegrasian disiplin ilmu sosial.
Sebaliknya dengan pengintegrasian jam belajar kepada IPS terpadu berarti mengurangi jumlah jam mengajar guru, sementara kewajiban mengajar atas beban mengajar tetap.
Untuk itu ditawarkan dengan pola Team Teaching
Yaitu dalam proses pembelajaran setiap topik pembelajaran disajikan oleh beberapa orang guru. Masing-masing guru memiliki tugas masing-masing sesuai dengan keahlian dan kesepakatan. Namun yang penting terlebih dahulu dibuat adalah kesepakatan akan KD. Namun sistim ini kenyataan di lapangan sangat sulit diterapkan karena koordinasi yang sulit dibangun.
Bagaimana dan apa yang dipilih ternyata kembali kepada budaya sekolah setempat. Untuk itu dipersilahkan sendiri memilih dengan menyesuaikan kondisi setempat.
Daftar Referensi
Daldjoeni (1981)
Soemantri, Noekman (2001) .
www. Strategi Pelaksanaan Pembelajaran IPS.com
Strategi Pembelajaran IPS Terpadu (2000) Dirjen Dikti.