Monday, July 6, 2009

POLITIK atau NGAKALI

POLITIK atau NGAKALI

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar FKIP Unila

 

Membaca tulisan Kang Ajat (Djadjat Sudradjat) di harian ini edisi minggu, kenangan saya menjadi menerawang, baik ke masa lampau maupun masa yang akan datang. Paragraf tulisan itu pendek, tetapi karena ditulis oleh Jurnalis senior, menjadi begitu menghujam di benak saya, dan itu memang ciri tulisan beliau. Lengkap penggalan tulisan itu begini;

                     Politik tak bermula dari kebencian. Tetapi, juga tak dari

                        rasa sayang. Ia berawal dari nalar untuk membangun

                        bangsa. Ia bisa asyik ditangan orang-orang terdidik.

                        Tapi, bisa hancur ditangan para bigot yang agresif.”

 

Tulisan itu membuat kita terpana jika dikaitkan dengan situasi masa lampau, kini, dan masa depan bangsa ini.

 

Pada masa lampau bangsa ini pernah berdarah-darah karena dibuat saling membenci antara kita sendiri sebangsa dan setanah air oleh para pemimpinanya. Kita pernah memiliki masa dimana dengan memberi label organisasi terlarang tertentu, baik itu kanan, apalagi kiri, kepada sesama anak bangsa, dapat memisahkan antara Bapak dengan Anak, antara Mertua dan Menantu, antara Suami dengan Istri, antara Kerabat dengan Handai Tolan. Kita masih merasakan sisa sisa jejak sejarah masa lampau dimana orang dapat dengan mudah ”di Burukan”  (di tahan tanpa diadili di Pulau Buru), hanya karena perbedaan yang tidakjelas. Atas nama politik semua itu sah pada masanya.

 

Pada kurun waktu belum lama berselang, masih dalam hitungan saat kebelakang. Ada satu keyakinan bahwa perubahan akan terjadi jika politik tidak dijadikan panglima, akan tetapi ekonomilah yang dikedepankan. Ternyata ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan saudaranya yaitu politik. Politik menungganggi ekonomi, atau ekonomi menunggangngi politik, atau bahkan saling tunggang, menjadi tidak jelas lagi. Sehingga semula Bantuan Langsung Tunai yang begitu diharap sebagai pengentas kemiskinan ternyata berhutang kemiskinan pada generasi kedepannya. Begitu ini terkuak kepermukaan publik, semua dibuat tercengang, kaget serasa tak percaya, bagaimana mungkin yang semula dihembuskan sebagai kompensasi subsidi BBM ternyata dana utangan.

 

Wacana baru beberapa waktu lalu muncul adalah kata kualisi. Selepas pemilihan kursi legeslatif semua ini marak, yang ternyata ujung ujungnya adalah pembagian kekuasaan. Semula berseberangan ternyata setelah diiming-imingi kursi, berubah menjadi teman. Waktu ditanya dengan ringan jawabannya ”itu politik bung”. Orang awam menjadi bingung, membedakan antara politik dan menipu. Atau paling tidak antara politik dengan ”ngakali”. Untuk satu ini ada peristiwa yang membuat kita terkaget-kaget, waktu saat pencalonan mengumbar janji, saat setelah duduk dan dilantik ditagih janjinya, dengan ringan mengatakan bahwa; itukan janji saya saat nyalon, setelah dilantik kan saya tidak pernah berjanji. Kita bisa membayangkan bagaimana kecewanya dan entah apalagi yang dapat mewakili rasa perasaan kita yang terluka.

 

Sekarang kita dihadapkan dengan masa depan melalui hajat nasional 8 Juli 2009. Disodorkan dengan empat pilihan, dengan pilihan pertama, kedua, dan ketiga, berisi calon. Pilihan keempat calonnya diri sendiri. Itupun kita bingung karena jika memilih diri sendiripun merasa menipu diri, karena sadar bahwa diri sendiripun tidak mampu menyelesaikan persoalan bangsa ini. Menyerahkan kepada orang lain, merasa bimbang, jangan jangan nanti diakali. Kemana kita harus mengadu.

 

Memang berpolitik yang cantik lagi santun bagi kebanyakan orang tinggal slogan, karena seperti apa wujudnya tidak ada batasan yang jelas. Justru yang dipertontonkan setiap hari seolah kita serigala bagi serigala lainnya. Terkadang tampak akrab sebelum menemukan mangsa. Tetapi begitu mangsa terhidang, maka adu kuat dan adu taring menjadi unjuk tampilan. Semua harus menyingkir dengan cara apapun, termasuk cara-cara ngakali, yang penting saya harus kenyang karena saya yang berkuasa.

 

Tatkala pikiran ini saya sampaikan dan diskusikan dengan kerabat, ternyata dengan ringan beliau mengatakan antara politik dan ngakali itu beda tipis saja, atau dengan bahasa anak muda sekarang sebelas dua belas saja.

 

Mendengar komentar itu saya terperanjat bagaimana jadinya bangsa ini jika tidak lagi mampu membedakan antara politik dan ngakali. Untuk apa pesta demokrasi lima tahunan jika hanya untuk ngakali. Semua ini berpulang kepada kita semua untuk menjadi cerdas sehingga tidak diakali terus menerus. Selamat menjadi pemilih yang baik sehingga dapat menentukan nasib masa depan bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 02:44:05 | Permalink | No Comments »

Monday, June 22, 2009

KUMBOKARNO satria dari Pangleburgongso

KUMBOKARNO satria dari Pangleburgongso
Oleh : Sudjarwo Guru Besar FKIP Unila
Ingat pada masa kanak-kanak dahulu penulis tinggal diperkampungan jawa, ditengah-tengah Provinsi Sumatera Selatan dengan budaya jawa yang masih kental, temasuk keberadaan wayang purwa, atau lebih dikenal dengan wayang kulit. Jika ada perayaan Bersih Desa, atau perhelatan pernikahan, bahkan sunatan, pada umumnya masyarakat pada waktu itu nanggap wayang. Cerita yang diambil berkisar dari Mahabrata, atau Babat Alengkadiraja, yang lebih dikenal dengan Ramayana. Salah satu cerita populer saat itu adalah Kumbakarna Gugur. Ternyata dari ceritera sang Dalang ada sejumlah pitutur atau nasehat yang terselubung dan pada saat-saat tertentu semua nasehat itu muncul kembali sebagai historia nostalgia. Tamsil itu ternyata masih relevan pada saat sekarang, walaupun dengan situasi dan waktu yang berbeda. Era keterbukaan seperti sekarang ini, termasuk didalamnya pola pemilihan, apapun keperuntukkannya, dilaksanakan secara langsung, bebas, dan rahasia. Tidak terkecuali pemilihan presiden yang dilaksanakan awal Juli. Pada saat ini didahului dengan sejumlah rally kampanye, dimana para kandidat melakukan perjalanan menawarkan program, menarik simpati masyarakat, untuk dapat memilih sang calon pada saatnya nanti. Sampai-sampai kita yang mengikutipun menjadi bingung ini kampanye atau adu sindir. Pemilihan dengan pola ini, termasuk pemilihan apapun, dari RT, RW, Lurah, Bupati, Gubernur, Rektor, akan menyisakan residu kelompok puas, tidak puas, dan tidak berpendapat. Ketiga kelompok ini memiliki potensi perilaku berbeda-beda. Tidak jarang perilaku tersebut menjadi destruktif, bahkan cenderung saling menghancurkan. Contoh peristiwa ini dimana-mana telah muncul, bahkan jauh sebelum masa merdeka, seperti masa Ken Arok di Kerajaan Singasari, masa Kuti di kerajaan awal Majapahit, dan lain sebagainya. Namun hampir dipastikan peristiwa sejarah cenderung berulang walau dengan seting yang berbeda. Pengulangan itu adalah ketidakpuasan yang berujung pada pertikaian. Pada kondisi seperti itu, yaitu memilih dari sejumlah pilihan, tentu tidak semua opsi dapat mewakili aspirasi kita. Tidak jarang aspirasi tadi tidak jumbuh dengan harapan. Oleh karena itu model opsi yang dipilih seperti Kumbakarna untuk mementingkan negara dari pada pilihannya, adalah teladan yang sangat tepat. Tamsil Kumbakarna maju perang menantang Ramawijaya bukan berarti dia membela abangnya sang Rahwana yang tamak dan merebut istri orang (Ramawijaya), akan tetapi Kumbakarna maju perang karena demi negaranya yang telah dijarah pasukan kera Ramawijaya. Kumbakarna tidak sudi dijajah, dan tidak rela negaranya dijadikan rayahan oleh orang luar, walaupun dia juga sadar bahwa semua itu akibat dari perilaku abangnya yang merusak. Bersandar pada tamsil di atas, maka dalam memilih siapapun sebagai pemimpin negeri ini, pada level apapun, jangan sampai karena pemilihan itu menjebak kita pada situasi terbelenggu kepada pemimpin yang dipilih. Masih ada yang lebih lagi kita perjuangkan yaitu keutuhan kesatuan negara ini dalam arti luas. Martabat bangsa sebagai harga mati yang tidak mungkin ditawar-tawar adalah sesuatu keharusan. Kita jangan terjebak kepada kepentingan sempit yang hanya mengutamakan kekuasaan, atau mendudukkan seseorang menjadi pemimpin. Akan tetapi yang lebih utama adalah bagaimana menyelamatkan negara ini agar tetap utuh dalam satu kesatuan berbangsa dan bernegara. Pilihan boleh beda, harapan juga bisa beda, tetapi cita-cita negara kesatuan harus tetap menjadi prioritas. Kesadaran akan “kesalahan sejarah” setelah pemilihan biasanya baru muncul setelah siapa yang dipilih tidak dapat memenuhi aspirasi pemilihnya. Kesalahan sejarah dijadikan outokritik bagi pemilih akan kesalahan dalam memilih. Hal ini dapat terjadi karena sang calon dapat membungkus dengan rapi maksud yang terkandung dilubuk hati yang paling dalam. Oleh sebab itu kepada para pemilih hendaknya berlaku hati-hati sebelum menjatuhkan pilihan, karena kesalahan sejarah dapat berulang apabila kita tidak cermat dalam menentukan pemilihan. Pemilihan dimaksud adalah dalam arti yang sangat luas, bukan hanya pemilihan presiden, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah memilih pemimpin masa depan dari institusi dimana kita berada. Kesalahan sejarah akan sulit diperbaiki karena harus menunggu kurun waktu tertentu. Sementara itu kesalahan tadi akan terus meminta korban, minimal korban perasaan kita sendiri. Selamat memilih, karena hidup ini sendiri adalah hasil dari memilih.
Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 10:15:14 | Permalink | No Comments »

Monday, April 20, 2009

BAHAN - BAHAN PENDIDIKAN NON FORMAL

MANAJEMEN KELAS

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

SEMARANG 28 APRIL 2009

(Materi Diklat PTK - PNF)

A. PENDAHULUAN

Dunia pendidikan kita dewasa ini menghadapi berbagai masalah yang amat kompleks, dan semua itu memerlukan perhatian kita semua. Salah satu diantaranya adalah perhatian kita terhadap pengelolaan kelas. Kelas sebagai basis pengajaran di garis depan adalah tempat berlangsungnya interaksi antara guru dengan murid secara nyata. Interaksi ini bermuatan pendidikan apabila guru merancang interaksinya secara pedagogis dapat dipertanggungjawabkan. Maksud secara pedagogis adalah adanya upaya bertanggung jawab dari guru untuk mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan

Merupakan upaya yang strategis apabila perbaikan pendidikan dimulai dari memperbaiki interaksi guru dengan murid di dalam kelas. Hal ini sejalan dengan konsep desenteralisasi pendidikan yang mengedepankan kemandirian guru dalam membangun interaksi dengan peserta didik melalui proses pembelajaran. Kelas sebagai unit terkecil dalam keseluruhan sistem pendidikan nasional sering dilupakan dalam pembahasan berbagai kebijakan penting tentang pendidikan umumnya dan pembelajaran di sekolah khususnya (A.Aziz Wahab; 2007). Pengkajian terhadap manajemen kelas akan meningkatkan pemahaman kita dalam memperolah pencerahan tentang kelas untuk melakukan perbaikan ke depan (Goodlad; 1984).

Pembahasan tentang manajemen kelas merupakan sesuatu hal yang penting baik masa sekarang maupun masa yang akan datang. Pembahasan dari hal yang sederhana seperti misalnya, ruang kelas, kursi, meja, almari, alat-alat tulis dan lain sebagainya, adalah peralatan pendukung manajemen yang sederhana. Hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana merancang tata letak yang paedagogis, kemudian bagaimana tingkat pemanfaatan media yang ada sebagai media pembelajaran, ini merupakan pekerjaan tersendiri yang merupakan bidang garapan dari manajemen kelas.

B. KELAS SERTA PENGELOLAANNYA

Guru yang telah memiliki jam mengajar cukup lama tidak banyak mengalami kesulitan dalam mengelola kelas waktu berlangsungnya proses pembelajaran. Berbeda dengan guru baru yang belum memiliki jam mengajar yang banyak. Kebanyakan diantara mereka masih mencari bentuk atau pola dengan mencontoh gurunya yang mereka sukai pada waktu mengajar. Tidak terlintas dibenaknya bahwa yang dihadapi ini bukan dirinya pada waktu dahulu. Akibatnya proses interaksi belajar mengajar yang dikembangkan terkesan foto copy dari cara gurunya mengajar pada masa lalu.

Pola berfikir demikian ini banyak terjadi, terutama guru yang memiliki pengetahuan dedaktik-metodik pengajaran yang minim. Pada lembaga-lembaga kursus peluang terjadi serupa ini sangat besar, karena para instrukturnya kebanyakan tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman pengelolaan kelas sesuai dengan asas dedaktik. Akhirnya proses interaksi belajar-mengajar yang dikembangkan penuh sesak dengan transfer pengetahuan, minim transfer keperibadian. Akibat lanjut kelas menjadi tempat penuangan bejana, bukan tempat berinteraksi.

Jika hal tersebut dilihat dari konsep bisnis, tidak menimbulkan persoalan, karena kelas dipandang sebagai medan pertemuan antara yang sama-sama membutuhkan. Siswa membutuhkan penguasaan ilmu sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Sedangkan instruktur membutuhkan imbalan materi sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Persoalan akan menjadi berbeda jika dilihat dari hakekat pembelajaran. Apabila tujuan kelembagaan yang kita bangun bertujuan untuk pengajaran, maka pengelolaan kelas secara substansial dengan aspek bisnis benar adanya; namun jika tujuan kelembagaan yang kita bangun bertujuan untuk pendidikan, maka tidak begitu tepat. Filosofi ini juga yang akan mendasari bagaimana manajemen pengelolaan kelas dibentuk atau dikembangkan.

Namun demikian ada sejumlah rambu-rambu umum yang dapat dijadikan acuan baik pada konsep pengajaran maupun pendidikan:

1. Kelas dikelola dengan pola ”semua keperluan”.

Maksudnya bahwa kelas di seting sedemikian rupa untuk dapat melayani semua kepeluan dari para pengguna kelas. Model kelas serupa ini banyak dijumpai pada tempat pendidikan negara-negara berkembang. Kelas seolah ”ruang swalayan”atau one stop service, semua keperluan untuk guru dan murid ada di sana. Kelas seperti ini jika diperuntukkan kelas lembaga kursus memang menjadi idaman bagi para muridnya, karena merasa dimanjakan untuk mendapatkan pelayanan. Bahkan konsep pelayanan prima sering disalahartikan bahwa kelas serupa inilah yang ideal. Jika konsep ruang kelas sebagai proses pendidikan, maka tidak semua kepentingan guru dan murid harus ada di sana. India salah satu negara yang menganut paham ruang kelas adalah ruang penyelenggaraan pendidikan mandiri. Oleh sebab itu keperluan-keperluan pribadi murid tidak selamanya ada dan tersedia di kelas.

2. Pencahayaan dan Kebisingan

Kedua hal di atas pada akhir-akhir ini sering diabaikan oleh pengelola sekolah dalam menata kelas sebagai tempat belajar. Banyak tempat-tempat pendidikan pencahayaan ruang tidak menjadi prioritas. Di samping aspek cahaya juga aspek sirkulasi udara. Akibatnya para siswa yang belajar cepat merasa lelah karena pengaruh dari pendengaran dan penglihatan.

Hambatan-hambatan fisik serupa ini banyak sekali terjadi di kota-kota besar, akibatnya kita sering melihat pelajar begitu selesai jam belajar, tampak di raut wajahnya tanda-tanda kelelahan yang begitu penat. Hal ini di samping beban pelajaran yang diperoleh, juga karena faktor sanitasi lingkungan kelas yang tidak mendukung. Akibatnya semua itu menumpuk pada diri siswa sebagai peserta didik. Akibat lanjut dapat dibayangkan bagaimana lelahnya para siswa, dan ini tampak pada raut wajah mereka masing-masing pada saat selesai proses pembelajaran.

Kelelahan ini semakin menjadi-jadi jika beban pembelajaran tidak sebanding dengan kemampuan tubuh menerima tekanan akibat dari ketidak sehatan lingkungan.

Kondisi lingkungan yang ideal memang sulit diperoleh di daerah kota-kota besar, akan tetapi paling tidak ada upaya teknologi yang dapat dilakukan agar dampak dari lingkungan dalam arti fisik dapat dikurangi resikonya. Sebagai contoh untuk mengurangi tingkat kebisingan suara pada kelas tertentu dapat digunakan dinding peredam, atau gerahnya suatu ruang dapat ditanggulangi dengan pemasangan AC, dlsbnya. Tampaknya aspek teknologi menjadi hal yang penting sebagai jalan keluar untuk menghadapi tantangan alam.

3. Tata letak pengaturan kursi

Jarak antara kursi satu dengan kursi untuk siswa tidak ada aturan baku, hanya pada konsep psikologi sosial disinggung bahwa setiap manusia memiliki teritori atau wilayah pribadi. Beberapa penelitian yang dilakukan Morgan (1970) ditemukan bahwa orang merasa aman jika wilayah sekitarnya memiliki jarak lingkar sekitar 0,5 s/d 1,00 m. Sedangkan jika lebih dari itu mereka akan merasa tersingkirkan dari lingkungan.

Berdasarkan itu kita harus berhati-hati dalam menyusun kursi. Kita harus mengetahui susunan kursi itu untuk keperluan apa. Jika untuk kepentingan belajar, maka wilayah privacy harus diciptakan, sebab banyak diantara siswa merasa tidak nyaman karena tidak memiliki wilayah privacy. Sebaliknya jika itu untuk diskusi, maka jarak antar kursi harus sedikit rapat guna memudahkan mereka membangun wilayah bersama.

Oleh sebab itu tempat belajar ideal bagi siswa ialah apabila tempat duduk mereka dapat dengan mudah dipindahkan sesuai kebutuhan. Cara ini memang sudah banyak dilakukan di tempat-tempat belajar, akan tetapi untuk kelas permanen seperti sekolah sangat berbeda dibandingkan dengan tempat kursus. Tempat kursus lebih leluasa dalam mengatur tempat duduk, karena itu kita harus memahami jika tempat kursus akan mendapat perhatian dari pelanggan, penyusunan kursi merupakan skala prioritas yang harus tetap diperhatikan dan mampu menarik minat pelanggan.

4.Dinding dan Papan Tulis

Dinding dimaksud dalam hal ini adalah warna dinding ruang belajar atau kelas. Banyak penelitian menyatakan bahwa warna ini mempengaruhi kondisi psikologis dari orang yang berada di ruangan tersebut. Untuk kelas belajar sangat disarankan warna yang dipilih adalah lembut, bukan cerah atau gelap.

Sedangkan papab tulis yang digunakan harus kontras karena akan mempengaruhi hasil tulisan. Adapun beberapa jenis papan ajuran yang seyogyanya ada pada lembaga pendidikan adalah:

1.Papan tulis

2.Papan putih

3.Papan magnetik

4.Papan Flip

5.Papan Pameran

6.Papan Flanel

7.Papan Gulung

8.Papan Slip

9.Papan Elektronik

Papan di atas dapat diadakan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran didalam kelas. Namun perlu diingat keberadaan papan tersebut haruslah sesuai dengan fungsi. Amat tidak bijak apabila kita membentang semua papan itu di dalam ruang kelas, karena di samping mempersempit ruang juga mengganggu pemandangan.

5.Lantai ruang

Lantai ruang dimaksud adalah lantai ruang belajar yang digunakan untuk proses pembelajaran. Ada sebagaian pendapat ruang belajar harus ditutup karpet, ada sebagian yang berpendapat tidak harus. Pendapat ini tidak perlu dipertentangkan karena kedua hal ini tidak berkait langsung dengan proses belajar. Hanya yang dipentingkan adalah kenyamanan yang tercipta karena warna lantai. Beberapa penelitian menemukan bahwa warna lantai akan lebih banyak mempengaruhi pandangan jika kursi yang dipakai adalah model kursi kuliah. Sedangkan jika tempat duduk dilengkapi meja, hal tersebut tidak terlalu berpengaruh pada pandangan mata. Informasi lain menunjukkan bahwa warna dasar lantai cerah lebih berpeluang meimbulkan rasa segar pada pandangan dibandingkan dengan warna gelap. Untuk ini alangkah bijaksananya jika kita ingin membangun ruang belajar berkonsultasi terlebih dahulu pada ahlinya.

Jadi, dapat dikatakan bahwa tempat bekerja, areal kerja, suasana kelas sangat tergantung pada ukuran dan bentuk, serta bagaimana bagian-bagian ruang itu digunakan; termasuk didalamnya:

1. Pengaturan meja guru, lemari penyimpan dokumen, proyektor OHP dll

Maksudnya ialah ketiga sarana tadi harus dalam posisi yang berdekatan agar mudah dijangkau oleh guru dalam mengembangkan interaksi pembelajaran bersama siswa. Tidak ada yang baku untuk meletakkan benda-benda ini. Apakah harus di posisi depan, samping atau belakang kelas.

2. Lemari Buku

Maksudnya ialah bahwa diruang belajar sebaiknya tersedia lemari buku, Lamari ini berfungsi baik untuk siswa atau untuk guru. Tata letak tidak ada ketentuan yang baku, hanya aspek estetika dan kepraktisan perlu diperhatikan. Namun demikian untuk menjaga suasana kelas agar tetap asri hingga menimbulkan suasana belajar yang kondusif, peletakan lemari buku juga perlu diperhatikan.

Perlengkapan yang dapat dimasukkan ke dalam lemari buku ini adalah di samping buku ajar, juga alat-alat pendukung pembelajaran lainnya (OHP, LCD dll). Termasuk hasil tugas siswa yang belum diambil, sehingga tidak ada alasan proses pembelajaran tidak berjalan karena tidak ada peralatan.

Setelah kita memahami kelas sebagai sarana atau tempat proses belajar, persoalan lebih lanjut ialah bagaimana mengelola kelas itu agar didalamnya terjadi proses pembelajaran. Untuk itu kita dapat mengenal beberapa model dalam pengelolaannya:

a.Model Interaksi Sosial

Model ini menekankan pada hubungan antarpeserta didik, peserta didik dengan guru/fasilitator, antara peserta didik dengan alam sekitar. Metode belajar yang paling utama dalam pendekatan ini antara lain diskusi, problem solving, metode simulasi, bekerja kelompok, dan metode lain yang berhubungan dengan berkembangnya hubungan sosial siswa.

b.Model Pembelajaran Alam Sekitar

Model ini menekankan pada bahwa peserta didik dalam mempelajari sesuatu harus melihat langsung, atau merasakan langsung apa yang dipelajari. Minimal bahan yang menjadi topik pengajaran harus yang dirasakan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

c.Model Pembelajaran Pusat Perhatian

Model ini berprinsip bahwa peseerta didik harus dididik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan dalam msyarakat, anak harus diarahkan kepada pembentukan individu dan anggota masyarakat. Oleh sebab itu peserta didik harus mengenal dirinya sendiri seperti hasrat dan cita-citanya, kemudian pengetahuan tentang dunianya seperti lingkungannya dan tempat hidup di hari depannya.

d.Model Pembelajaran Sekolah Kerja

Model ini berprinsip bahwa pendidikan itu tidak hanya untuk kepentingan individu, tetapi juga demi kepentingan masyarakat; dengan kata lain sekolah memiliki kewajiban (1) mempersiapkan tiap peserta didik untuk berkerja pada lapangan tertentu (2) tiap peserta didik wajib menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan negara (3) untuk mewujudkan kedua hal tadi peserta didik wajib menjaga keselamatan negara.

e. Model Pembelajaran Individual

Model pembelajaran ini didisain untk pembelajaran mandiri. Bentuk bentuk pembelajaran ini antara lain pola pembelajaran modul. Penekanan pada model pembelajaran individual adalah pada komitmen antara guru dan peserta didik.

f.Model Pembelajaran Klasikal

Model pembelajaran klasikal dikenal model yang paling efisien. Pembelajaran secara klasikal ini memberikan arti bahwa seorang guru melakukan dua kegiatan sekaligus, yaitu: mengelola kelas dan mengelola pembelajaran.

Pada prinsipnya semua model di atas adalah merupakan arahan kepada penyelenggara pendidikan bahwa lembaganya dalam melaksanakan program pendidikannya mengambil model yang mana. Akan tetapi dalam kenyataan praktiknya ternyata model pengembangan di dalam kelas tetap berorientasi pada bagan sebagai berikut:

1. PERUMUSAN TUJUAN 2. KEGIATAN PEMBELA-

Menyusun tujuan instruksional JARAN

Khusus yang operasional, teru menetapkan sumber bela-

tama perubahan perilaku yang jar dan metode pendekat-

diharapkan. an yang dipakai

5. EVALUASI BELAJAR 3. PENGEMBANGAN KE-

Menyusun test standar GIATAN PEMBELAJAR-

yang akan digunakan dan AN

cara pengolahannya Merumuskan bahan dan

materi pelajaran, mene-

tapkan alat kelengkapan

dan media yang akan

dipakai.

4. PELAKSANAAN

a. melakukan pre test

b. menyampaikan bahan

dan materi pelajaran

c. melakukan post test

d. mengadakan perbaikan

pembelajaran

C. PENGGUNAAN BERBAGAI METODE DALAM PROSES BELAJAR-

MENGAJAR.

Pada prakteknya seorang pendidik dalam melaksanakan tugasnya di dalam kelas tidak lepas dari upaya menguasai kelas dan menyampaikan bahan pembelajaran kepada peserta didik. Dalam kegiatan penyampaian tadi pada umumnya menggunakan cara atau metoda tertentu. Walaupun dalam pelaksanaannya tidak terpaku pada satu metode saja, dapat saja dilakukan secara elektif yaitu menggunakan berbagai metoda. Namun pada umumnya metoda yang dipakai itu adalah sbb:

1. Metoda Ceramah

Metoda ini adalah cara klasik yang menempatkan guru sebagai sumber informasi utama dalam proses pmbelajaran. Keunggulan metoda ini ialah mampu memberikan informasi sekaligus pada peserta didik dalam jumlah banyak. Namun kelemahannya metoda ini cukup banyak, diantaranya adalah penguasaan materi dan penguasaan kelas sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran.

2. Metode Tanya Jawab

Teknik ini tidak sama dengan teknik intograsi. Tanya jawab dimaksud adalah agar peserta didik dapat mengembangkan kreativitas berfikir, dan motivasi untuk memahami bahan pembelajaran.

3.Metode Diskusi

Teknik ini paling efektif jika topik yang didiskusikan menarik perhatian peserta didik. Jika tidak, maka diskusi, terutama diskusi kelompok, akan menjadi kering dann tidak menghasilkan apa-apa.

4.Metode Demonstrasi

Teknik ini paling efektif jika apa yang akan didemonstrasikan menarik minat peserta didik karena merasa kebutuhannya terpenuhi. Jika kondisi itu tidak terjadi, maka tidak akan muncul kondisi interaktif yang menimbulkan proses pembelajaran.

5.Metoda Sosiodrama

Teknik ini efektif jika tujuan yang akan kita capai adalah pada tataran penghayatan. Perlu diingat penggunaan metoda ini yang menjadi obyek pelaku adalah peserta didik, sementa guru adalah sutradara dari seluruh rangkaian kegiatan ini.

6.Metoda Karyawisata

Teknik ini sangat efektif jika materi pembelajaran tidak mungkin di bawa kemuka kelas. Peserta didik akan mendapatkan pengalaman psikologis langsung terhadap obyek yang dikunjungi.

D.PENUTUP

Uraian di atas secara keseluruhan dapat disesuaikan dengan keadaan kelas pada umumnya sebab tidak mungkin kita menampilkan seluruh proses pendidikan hanya terpaku di muka kelas. Namun persiapan sampai pelaksanaan bahkan evaluasi, sangat mungkin dilakukan jika direncanakan dengan baik.

DAFTAR RUJUKAN

A.Aziz Wahab. Departemen Pendidikan Nasional (2007), Direktorat Tenaga Kependidikan, Dirjen PMPTK:http://www.pmptk.net

Goodlad, John I., (1984) New York: McGraw-Hill Book Company.

Morgan, J (1970), Social Interaction, McGraw-Hill Book Company.

Sagala, Syaiful, (2007), Konsep dan Makna Pembelajaran. Penerbit Alfabeta, Bandung

School-Based Management, Northwest Regional Education Laboratory (NWRL) :http://www.nwrl.org


Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 12:24:28 | Permalink | No Comments »

BAHAN - BAHAN IPS TERPADU

MENGENAL PEMBELAJARAN

IPS TERPADU

===============================================================

Oleh : Sudjarwo

(Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial FKIP Universitas Lampung)

MAKALAH INI DI SAMPAIKAN PADA SEMINAR NASIONAL

IPS TERPADU DI FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

18 APRIL 2009

PENDAHULUAN

Departemen pendidikan nasional telah memberikan batasan tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah, untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan melatih keterampilan untuk mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa diri sendiri atau masyarakat.

Berdasarkan batasan di atas paling tidak ada tiga hal yang menjadi fokus utama yang ingin dicapai oleh tujuan tadi, yaitu:

Pertama, mengembangkan potensi diri peserta didik agar peka terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Pada tataran ini guru sangat diharapkan sebelum merencanakan pembelajaran harus memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang persoalan-persoalan sosial di lingkungannya.

Kedua, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi.

Pada tataran ini guru sangat diharapkan untuk mampu membangun pemikiran positif peserta didik untuk sama-sama memecahkan masalah sosial yang ada. Dengan pemikiran positif ini diharapkan tidak akan muncul pemikiran mencari kambing hitam, menyalahkan, kemudian tidak menemukan jalan keluar dari persoalan sosial.

Ketiga, melatih keterampilan peserta didik untuk mengatasi masalah, baik yang menimpa diri maupun masyarakat.

Pada tataran ini guru diharapkan mampu memberikan bimbingan dengan cara model pemecahan masalah kepada peserta didik. Jika dimungkinkan melalui simulasi-simulasi sosial dalam proses pembelajaran.

Memperhatikan tujuan di atas tampak bahwa untuk mencapainya sangat diperlukan kreatifitas guru dan kepekaan guru terhadap masalah-masalah sosial lingkungannya. Juga kita bisa membayangkan bagaimana dinamisnya materi bahan ajar yang ada pada subyek pembelajaran.

PENDEKATAN KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Sebelum membicarakan pendekatan konsep, sebaiknya kita lihat terlebih dahulu substansi dari Ilmu Pengetahuan Sosial, yaitu merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hkum, dan budaya. Ilmu pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realita dan fenomena sosial dengan mengorientasikan kajiannya berpola pada pendekatan interdisipliner dari seluruh cabang ilmu sosial.

IPS sebagai suatu studi sosial merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang isi materinya diturunkan dari isi materi sejumlah ilmu-ilmu sosial, diantaranya; sosiologi, sejarah, geografi, antropologi, politik, filsafat, dan psikologi sosial. Namun demikian ada empat bidang ilmu yang memiliki keterpaduan tinggi melahirkan Ilmu Pendidikan Sosial, yaitu Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Antropologi. Jika keempatnya digambarkan akan tampak sebagai berikut:

Geografi Sejarah

Sosiologi

Antropologi

Ilmu Pengetahuan Sosial

Pembelajaran Geografi memberikan penekanan pada kajian kewilayahan, sedangkan Sejarah memberikan penekanan pada peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian penting pada periodesasi tertentu. Pembelajaran Antropologi memberikan sumbangan pada studi-studi tata nilai, kepercayaan, dan keagamaan. Untuk sosiologi kontribusinya lebih pada struktur sosial, perubahan sosial, interaksi sosial dan lainnya.

Keterkaitan antarbidang ilmu yang memunculkan Ilmu Pengetahuan Sosial itu menunjukkan bahwa dalam studi sosial kita tidak dapat mengandalkan satu bidang ilmu saja, akan tetapi harus integratif dengan bidang ilmu lain, guna mendapatkan suatu kajian yang luas dan mendalam. Hal ini juga bertolak dari pemikiran kajian ilmu sosial pengetahuan yang berfokus kepada perilaku manusia, baik secara individual maupun kelompok, adalah sulit hanya mengandalkan satu bidang ilmu saja.

Kajian antarbidang di atas maka mengokohkan posisi Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu sebagai suatu kajian tersendiri dan memerlukan pemahaman akan karakteristik dari Ilmu Pengetahuan Sosial. Beberapa ahli memberikan batasan tentang ini.

KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Beberapa ahli memberikan batasan tentang karakteristik ini diantaranya adalah:

Pertama, Ilmu pengetahuan sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan, dan agama (Nukman Soemantri, 2001).

Kedua, standar kompetensi dan kompetensi dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.

Ketiga, standar kompetensi dan kompetensi dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yangdirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.

Keempat, standar kompetensi dan kompetensi dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan hidup, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).

Kelima, standar kompetensi dan kompetensi dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Adapun dimensi tadi yaitu meliputi dimensi ruang, dimensi waktu, dan nilai/norma. Dimensi ruang menunjuk kepada dimana peristiwa itu terjadi. Dimensi waktu menunjuk kepada bila peristiwa itu terjadi, dan dimensi nilai/norma menunjuk kepada kaidah atau tatalaku dari para pelaku peristiwa tadi.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN IPS TERPADU

Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering juga disebut dengan pendekatan interdisipiner. Model pembelajaran terpadu pada hakekatnya adalah merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individu maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996). Salah satu dasar diantaranya ialah dengan cara memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk merespons semuainformasi yang berkaitan dengan apa yang dipelajarinya. Dengan demikian peserta didik terbiasa dengan menemukenali konsep yangdipelajari secara mandiri.

Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu dapat saja mengambil suatu topik tertentu dari cabang ilmu sosial tertentu, kemudian dilengkapi dan dibahas, serta diperluas atau diperdalam dengan cabang ilmu sosial lainnya. Topik atau tema dapat saja diambil dari fenomena yang ada di dalam masyarakat yang sedang hangat dibicarakan banyak kalangan. Untuk itu kita dapat merinci sejumlah pendekatan pembelajaran IPS terpadu sebagai berikut:

1. Model Integrasi IPS berdasarkan topik/tema

Adanya

Kekacauan Persebaran

suatu daerah secara kewilayaan

berakibat daerah wisata

pada keadaan

SEJARAH GEOGRAFI

PENGEMBANGAN

PARIWISATA

SOSIOLOGI EKONOMI

sosial ekonomi

dan politik

Perubahan sosial Uang dan

Budaya pada sebaran lembaga

masyarakat keuangan

Keterpaduan dalam Topik/Tema ternyata melahirkan sejumlah kajian dari disiplin ilmu yang beragam dengan pisau analisis yang tajam dari masing-masing sub tema yang dapat dilahirkan dari satu tema besar.

2. Model Integrasi berdasarkan potensi utama

Peta wilayah Bentuk-bentuk

Yang menggambarkan interaksi sosial

SEJARAH

SOSIOLOGI/

ANTROPOLOGI

GEOGRAFI

Oval: PADANG SEBAGAI TUJUAN WISATAkan obyek geografis yang berkembang

Perkembangan Gagasan mengembang

Masyarakat kan ekonomi untuk

Dilihat dari memenuhi kebutuhan

Budaya hidup masyarakat

Untuk mandiri

Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam IPS.

3. Model integrasi berdasarkan pemasalahan

Oval: PEMUKIMAN KUMUH Faktor

Sosial Budaya Faktor Ekonomi

Perilaku dalam Faktor kesejarahan

merespons aturan

Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya PEMUKIMAN KUMUH. Pada IPS terpadu pemukiman kumuh dapat ditinjau dari berbagai faktor, diantaranya faktor sosial budaya (Antropologi), faktor ekonomi (Ekonomi), faktor perilaku dalam merespons aturan (Sosiologi), faktor kesejarahan (Sejarah).

STRATEGI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPS TERPADU

A. Perencanaan

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu sangat tergantung kepada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi serta potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk itu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Melakukan Pemetaan Kompetensi Dasar

Cara yang dapat ditempuh ialah :

a. mengidentifikasi beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai

Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan.

b. beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan,

jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran, sebaik

nya yang demikian ini disajikan tersendiri

c. Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Stan

dar Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas

yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kom-

petesi Dasar saja. (Atas dasar analisis kebutuhan siswa )

d. Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam topik/tema masih

dapat dipetakan dengan topik/tema lainnya.

2. Menentukan tema/topik pengikat antarStandar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar.

3. Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam indikator yang sesuai

dengan topik/tema

4. Penyusunan desain/rencana pelaksanaan pembelajaran/ skenario

pembelajaran

Ada sejumlah hal yang dapat jadi perhatian kita semua bahwa kegiatan 1 s/d 4 di atas tidak dapat dilakukan secara mendadak, akan tetapi harus dikerjakan oleh para guru Tim IPS terpadu paling tidak satu bulan sebelum tahun pelajaran dimulai. Yaitu dengan cara merumuskan bersama tema yang akan ditampilkan pada semester berjalan yang akan datang.

Berikut ini contoh bagaimana memetakan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan/diintegrasikan:

PETA KOMPETENSI DASAR

YANG BERPOTENSI DIJADIKANTOPIK

PADA IPS TERPADU

GEOGRAFI

SOSIOLOGI

EKONOMI

SEJARAH

TEMA

mendeskrip

1. mengiden-

1. mendes-

1. mendes-

sikan pola

tifikasi ben-

kripsikan

kripsikan

KEGI-

kegiatan eko

tuk-bentuk

kegiatan po-

perkembang

ATAN

nomi pendu

interaksi

kok eknmi

an masyara

EKONO-

duk, penggu

sosial

yang melipu

kat, kebuda

MI

naan lahan

ti kegiatan

yaan, dan

PEN-

dan pola pe-

2. mengurai-

konsumsi,

pemerinta-

DUDUK

mukiman

kan proses

produksi,

han pada

berdasarkan

interaksi

dan distri

masa Hindu

kondisi fisik

sosial

busi barang

Budha,

permukaan

jasa

serta pe-

ninggalan2

2. mendes-

nya.

kripsikan

kegiatan po-

2.mendes-

kok ekono

kripsikan

mi, yang

perkembangan

meliputi ke-

masyarakat,

giatan kon-

kebudayaan,

sumsi, pro-

dan pemerin-

duksi, dan

tahan pada

barang/jasa

masa Islam

di Indonesia

3.mendes-

serta pening-

kripsikan

galannya

peran badan

usaha terma

3.mendeskrip-

suk kopera-

sikan perkem

si, sebagai

bangan masya

Tempat ber

rakat, kebu-

langsungnya

dayaan, dan

proses pro-

pemerintahan

duksi dalam

pada masa

kaitannya

kolonial

dengan

Eropa.

pelaku

ekonomi.

Indikator yang dikeluarkan harus sesuai dengan Tema yang dimunculkan, karena hal ini sekaligus sebagai acuan untuk menetapkan jenis evaluasi dan menetapkan ranah mana yang menjadi domain bagi evaluasi tersebut. Sekedar contoh dapat kita tampilkan sbb:

TOPIK : Kegiatan Ekonomi Penduduk

Geografi :

Standar Kompetensi Dasar (lihat kurikulum/di atas)

Kompetensi Dasar …………………………………….

(Lihat Kurikulum)

Indikator : ……………………………………

( Bersumber dari kesepakatan Tim Guru dengan mengacu

pada buku acuan/ refrensi )

Petakan kisi-kisi soal melalui tabel berikut sesuai dengan ranah yang dituntut oleh SK, KD dan Indikator:

KOGNITIF

AFEKTIF

PSIKOMOTOR

Contoh Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) IPS

Terpadu

Mata Pelajaran : …………………………………………

Satuan Pendidikan : …………………………………………

Kelas / Semester : ………………………………………….

Topik/Tema : ………………………………………….

Alokasi Waktu : …………………………………………..

a. Kompetensi Dasar dan Indikator

b. Tujuan Pembelajaran

c. Metode Pembelajaran

d. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan I

Tahap

Kegiatan

Alokasi Waktu

Kegiatan Awal

………………………..

Kegiatan Inti

………………………..

Penutup

………………………..

Pertemuan II

Tahap

Kegiatan

Alokasi Waktu

Kegiatan Awal

………………………..

Kegiatan Inti

………………………..

Penutup

………………………..

e. Sumber, Alat, dan Media Pembelajaran

………………………………………………………….

f. Penilaian

. Teknik

. Bentuk Instrumrn

Padang , …………………………………….. 2009

Guru Pengampu

1. ………………………………… Bidang Geografi

2. …………………………………. Bidang Ekonomi

3. …………………………………. Bidang Sosiologi

4. ………………………………….. Bidang antropologi

Ketua Tim ……………………………………………………………

B. Model Pelaksanaan Pembelajaran

1. Kegiatan Pendahuluan (Awal)

Kegiatan pendahuluan pada dasarnya merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu.

Fungsi utama dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan suasana batin pada peserta didik untuk dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Karena waktu yang ada tidak lebih dari 5 – 10 menit, maka diharapkan guru dalam memanfaatkan waktu ini dengan baik dan bermutu.

Hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan dalam proses kegiatan awal ini, yaitu:

a. Apersepsi yaitu mengulas sedikit pelajaran yang lampau.

b. Penilaian awal

c. Absensi

d. Menumbuhkan kesiapan belajar.

2. Kegiatan Inti Pembelajaran

Kegiatan ini merupakan inti dari proses pembelajaran yang dibentangkan melibatkan siswa. Proses pembelajaran dapat berupa tatap muka di muka kelas, akan tetapi dapat juga non tatap muka. Namun ada satu kegiatan awal yang sering terlupakan yaitu memberi tahukan Kompetensi Dasar yang akan dicapai oleh peserta didik dengan materi yang akan dipelajari saat itu.

Hal lain yang perlu diingat ialah bahwa materi pembelajaran terpadu itu mengutamakan aktivitas yang berorientasi kepada aktivitas peserta didik. Guru lebih berperan sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik. Sebaliknya peserta didik dirangsang untuk menemukenali sendiri persoalan-persoalan sekitar tema yang menjadi bahan kajian saat itu.

Perubahan tingkah laku yang menjadi sasaran belajar pada akhisrnya harus tampak sesuai yang diinginkan pada waktu penyusunan rencana pembelajaran. Adapun strategi pembelajaran yang dilakukan dapat berupa kegiatan klasikal, kelompok, dan perorangan.

3. Kegiatan Akhir (Penutup) dan Tindak Lanjut

Kegiatan akhir di sini tidak dibatasi hanya menutup pelajaran, akan tetapi lebih pada penilaian hasil belajar peserta didik dan kegiatan tindak lanjut. Karena waktu yang tersedia relatif singkat, maka guru harus mengaturnya seefisien mungkin. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan pada kegiatan ini adalah:

a. Memberikan motivasi, menginformasikan tugas rumah jika ada,

mengulas materi yang dianggap sulit, dll

b. Mengemukakan rancangan topik yang akan dibahas untuk waktu

yang akan datang.

C. Penilaian

Obyek dalam penilaian pembelajaran terpadu mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan belajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik. Sedangkan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kreteria tertentu.

Hasil belajar tersebut pada hakekatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya. Hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.

Cakupan penilaian meliputi;

Teknik Penilaian

Yaitu merupakan cara yang digunakan dalam melaksanakan penilaian. Teknik-teknik yang dapat diterapkan meliputi Teknik Test yang cakupannya meliputi (1) Kuis, dan (2)Tes Harian.

Untuk Teknik Non Test, cakupannya meliputi observasi, angket, wawancara, dll

Bentuk Instrumen

Test meliputi, pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan dll

Non Test meliputi, panduan observasi, panduan wawancara dll

Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu

Idealnya pelaksanaan pendidikan IPS itu dipegang oleh seorang guru, yaitu Guru IPS. Namun perlu diingat bahwa latar belakang masing-masing guru berbeda. Ada yang dari Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, sehingga sulit sekali untuk beradaptasi ke dalam pengintegrasian disiplin ilmu sosial.

Sebaliknya dengan pengintegrasian jam belajar kepada IPS terpadu berarti mengurangi jumlah jam mengajar guru, sementara kewajiban mengajar atas beban mengajar tetap.

Untuk itu ditawarkan dengan pola Team Teaching

Yaitu dalam proses pembelajaran setiap topik pembelajaran disajikan oleh beberapa orang guru. Masing-masing guru memiliki tugas masing-masing sesuai dengan keahlian dan kesepakatan. Namun yang penting terlebih dahulu dibuat adalah kesepakatan akan KD. Namun sistim ini kenyataan di lapangan sangat sulit diterapkan karena koordinasi yang sulit dibangun.

Bagaimana dan apa yang dipilih ternyata kembali kepada budaya sekolah setempat. Untuk itu dipersilahkan sendiri memilih dengan menyesuaikan kondisi setempat.

Daftar Referensi

Daldjoeni (1981)

Soemantri, Noekman (2001) .

www. Strategi Pelaksanaan Pembelajaran IPS.com

Strategi Pembelajaran IPS Terpadu (2000) Dirjen Dikti.

Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 12:22:33 | Permalink | No Comments »

KADAL-KADAL PEMILU

KADAL-KADAL PEMILU Oleh: Sudjarwo Guru Besar FKIP
Unila Selepas magrib ada sohib yang datang ke rumah. Ada kelainan pada wajah teman yang satu ini. Biasanya tampak ceria dan sedikit jenaka, bahkan sekalipun dia maju sebagai calon legeslatif sifat periang ini tetap muncul, bahkan cendrung semakin menjadi. Namun kali ini tampak kuyu. Berbeda dibandingkan dua bulan lalu saat datang minta restu untuk maju sebagai Caleg, walau dengan berat hati saat itu saya meristui tetapi dengan sejumlah catatan, termasuk salah satu catatannya adalah “siap kecewa”.
Nasehat itu saya beri ulasan berdasarkan pengalaman pribadi termasuk pengalaman beberapa rekan yang saya ketahui. Pada waktu didesak baru mau bercerita dari A sampai Z tentang liku-liku dia mencalonkan diri sebagai calon legeslatif. Ternyata ada terminologi “dikadali” dalam istilah pencalonan ini, yaitu ada tim yang direkrut oleh calon diberi nama Tim Sukses atau sering disebut TS. Kerja tim sukses ini membangun citra bagi sipencalon kepada publik sebagai calon pemilih. Tetapi TS yang kawan bentuk tadi ternyata belakangan ketauan dia juga menjadi TS calon lain, bahkan tidak hanya satu calon. Ternyata dari beberapa calon. TS ini meminta fasilitas dari uang transport, handphone, sampai dengan uang operasional. TS ini kemudian menghilang begitu pemilihan dimulai, karena dia sudah mengkadali sejumlah calon. Setelah mendengar itu semua ternyata manusia seperti ini selalu ada dalam lakon pemilihan, baik pemilihan RT, Kades, Dekan, Rektor, DPR, Gubernur, sampai dengan Presiden. Manusia yang berwatak culiko ini tetap ada, bahkan hampir menjadi profesi bagi kalangan tertentu. Kasihan sekali nama binatang “kadal” yang termasuk kelompok reptil satu ordo dengan biawak,dan komodo. Sifat reptil kadal, hampir sama dengan teman satu ordonya, yaitu pemakan daging (Karnivora). Kadal memakan binatang-binatang kecil sampai dengan binatang yang masih mungkin masuk ke mulutnya. Bahkan yang satu jenis lagi bernama Bengkarung (dalam bahasa daerah Sumatera Selatan), itu dapat mimikri yaitu mengubah warna kulitnya sesuai dengan di mana dia hinggab. Akan tetapi ada satu sifat kadal yaitu dia memakan apa saja asal menurutnya “enak”. Bahkan sekalipun dia sudah kenyang, tetap saja menyantap bila disodori mangsa. Ingat pada waktu masa kecil berburu kadal dengan bermodalkan capung sebagai umpan buat sang Kadal. Waktu itu bau badanpun sudah sama dengan bau Kadal, akan tetapi tetap saja mengkadali Kadal dengan menggunakan umpan Capung yang sudah lusuh menghijau sewarna dengan warna Kadalnya. Tidak ada satu literaturpun sampai saat ini yang menyatakan bahwa Kadal itu pernah mengadakan Pemilihan Umum, apalagi menjadi Tim Sukses bagi Kadal lainnya. Namun karena ulah manusia, maka nama Kadal dijadikan label kepada Tim Sukses yang kiri kanan OK, alias mau makan apa saja dari siapa saja, yang penting kenyang saat itu, dan inilah sifat dasar kadal. Karena sifat layaknya kadal yang kiri kanan OK inilah maka manusia yang bersifat seperti kadal ini perilakunya disebut mengkadali. Manusia seperti ini sangat senang membuat sensasi, bahkan gosip, sehingga Sang Bos yang membayarnya makin yakin pada dirinya. Kalimat-kalimat superlatif sering muncul dari bibirnya, seperti; Serangan Fajar, Kita Gembosi, Kita Intai, Kita Bidik Dia, dan masih banyak lagi. Terkadang kalimat-kalimat itu menjadi seram kedengarannya, bahkan membuat bulu roma berdiri. Walaupun kenyataannya biasa-biasa saja, bahkan tidak ada gejolak sama sekali. Inilah kepandaian Sang Kadal dalam menciptakan kekeruhan sehingga dia dapat memancing di air keruh. Kondisi masyarakat yang melihat jabatan dan kekuasaan sebagai tujuan, bukan sebagai amanah, maka kelompok-kelompok kadal ini akan hidup subur. Sebaliknya bagi masyarakat yang melihat jabatan dan kekuasaan sebagai amanah, dan pada waktunya nanti akan dimintai pertanggungjawaban di yaumilakhir, maka kelompok-kelompok kadal ini tidak akan dapat hidup, karena tidak memperoleh mangsa. Namun dasar watak hewan karnivora dia akan selalu mencari akal bagaimana memangsa. Demikian juga watak pengkadal ini, tidak segan segan menjual ayat untuk memperoleh mangsa. Untuk itu kewaspadaan tinggilah yang harus selalu kita pasangkan ke depan. Celakanya kelompok Kadal ini jika calonnya menang, maka siang malam dia akan datang kepada sang calon dengan membusung dada bahwa dialah pahlawannya untuk mencapai kemenangan itu. Pada akhirnya bisa diterka sang Kadal ini minta bagian dari kekuasaan tadi. Secuil kekuasaan baginya sangat perlu guna melegitimasikan diri bahwa dia adalah pahlawan. Ironisnya jika sang Kadal tidak kebagian kekuasaan atau rejeki dari sang calon yang menang diusungnya, maka tidak segan-segan sang Kadal berbalik arah, menyerang sang calon yang menang, bahkan tidak jarang sanggup menciderai bahkan sampai mencelakakannya. Kemudian meninggalkannya seraya berkata ”tidak tahu diri” atau ”tidak tahu diuntung” dan lain sebagainya yang sejenis itu. Karakter Kadal ini dapat menembus ruang dan waktu, serta bukan monopoli jender, juga tidak terkecuali bagi mereka yang berpendidikan tinggi. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat pendidikan sang Kadal, maka semakin canggih juga cara dia mengkadali mangsanya. Pertanyaan tersisa adalah bagaimana cara menghadapi Kadal-Kadal ini ?. Jawabannya ialah yakinkanlah kepada diri anda sebagai calon bahwa jabatan dan kekuasaan itu adalah amanah sang Pencipta. Jika DIA menghendaki, maka jadilah, sebaliknya jika tidak, apapun upaya anda hasilnya tetap tidak. Selanjutnya berilah keyakinan kepada orang terdekat anda, termasuk teman-teman karib anda, bahwa anda maju bukan ingin meraih kekuasaan atau jabatan, tetapi karena kewajiban sebagai umat terhadap negara dan bangsanya. Pendidikan budi pekerti demikian ini tidaklah diperoleh dari bangku sekolah, akan tetapi dari proses pergumulan batin pada saat berinteraksi dengan lingkungan anda. Lingkungan yang seperti apa yang dapat membangun keadaan sedemikian itu, yaitu lingkungan yang mampu menumbuhkembangkan jiwa kesatria sebagai anak bangsa, dan mau melihat ke depan untuk bangsanya. Pribadi yang demikian ini mampu membedakan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan negara. Sekalipun ini tampaknya sebagai sesuatu yang utopis, namun contoh teladan yang dapat kita petik dari sejarah masa lampau dapat kita jadikan referensi. Prabu Kumbokarno, seorang raksasa adiknya Rahwana dari Alengkadiraja pada cerita Ramayana, maju ke medan perang sampai badannya terpotong-potong bukan karena membela keangkaramurkaan abangnya yaitu Rahwana, tetapi dia maju kemedan laga karena membela Tanah Airnya yang dijarah oleh musuh. Semoga dengan peristiwa di atas dapat dipetik hikmanya bahwa dalam palagan apapun, termasuk pemilihan apapun, pasti akan dijumpai kelompok Kadal. Untuk itu mari bentengi diri dengan keyakinan yang teguh bahwa yang mengatur roda kehidupan ini adalah Sang Kholik. Beliaulah yang menetapkan bagian kepada umatnya dan pembagian itu tidak pernah tertukar antara satu orang dengan yang lain. Jika kodrat menentukan itu milik anda, jadilah milik anda. Amin…….
Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 11:52:48 | Permalink | No Comments »

Saturday, April 11, 2009

PIHAK LAIN

PIHAK LAIN

Oleh : Sudjarwo

Guru Besar FKIP Unila

Pada saat rebahan karena menahan sakit ngilu kaki alat telekomunikasi mini berdering. Ternyata diseberang sana ada sohib lama yang mengirim berita pendek, berisi berita keprihatinan karena Dinas Pendidikan Provinsi melibatkan pihak ketiga dalam membagikan sarana pendidikan bagi warga miskin. Saya membalas dengan dingin, jangan-jangan hal itu terjadi karena tidak ada aturan yang melarang atau menganjurkan hal itu terjadi, atau boleh jadi pihak Dinas Pendidikan Provinsi ketakutan dengan fatamorgana selama ini yang selalu membuat repot kepala dinas saat mengakhiri jabatan yang berurusan dengan hukum, atau juga bisa terjadi karena tidak mau repot berhadapan dengan pihak lain yang selalu ingin mencari keuntungan dalam kesempitan.

Sejuta alasan di atas bisa menjadi lebih panjang jika dihadapkan dengan realita di lapangan. Namun beralasan juga sohib saya tadi resah karena menurut beliau ”jangan mau jadi pejabat jika tidak mau dengan resiko jabatan”. Atau beliau juga membuka dalil bagaimana kalau jatah simiskin ditenderkan, apakah itu bukan berarti memperkaya orang kaya melalui pemiskinan orang miskin.

Memang dua kutub itu tidak akan ketemu karena sama halnya menarik garis kurva pada kurva normal. Kaki kurva kiri tidak akan ketemu dengan kaki kurva kanan, kecuali ”diperkosa” dengan dilipat duakan gambar kurva tadi. Berarti ada pihak lain yang harus terlibat dalam pemerkosaan kurva.

Kasus ini menjadi menarik apabila kita kembalikan kepada hakekat bantuan kepada orang miskin, dan konsep pendidikan sebagai roh yang harus ada pada Dinas Pendidikan.

Hakekat bantuan kepada orang miskin adalah merupakan kewajiban negara sebagai perintah Undang Undang Dasar bagi penyelenggara negara. Karena ini perintah Undang undang Dasar, maka tidak ada satupun penyelenggara negara yang memiliki hak kebal untuk tidak menjalankannya. Justru merupakan penekan bagi penyelenggara negara untuk melakukannya. Persoalannya pada tataran praksis sering penyelenggara negara sebagai pejabat negara ingin mencari aman dari segi tuntutan hukum, sehingga azaz kepatutan tidak menjadi bahan pertimbangan moral. Asal diri selamat dari tuntutan hukum itu lebih baik, walaupun langkah yang diambil melanggar azaz kepatutan.

Sikap mental demikian ini tumbuh menjamur dimana-mana dihampir semua lini penyelenggara negara. Karena bayangan betapa tidak nyamannya apabila selesai dari masa jabatan justru berurusan dengan hukum. Sikap kehati-hatian yang berlebihan ini tidak jarang membuat penyelenggara negara dalam mengambil kebijakkan berpedoman pada moto ”lebih baik terlambat tapi selamat, dari pada cepat tetapi masuk buih”. Akhirnya bantuan untuk orang miskinpun yang seharusnya tidak perlu melalui pihak ketiga, dilakukan melalui pihak ketiga. Dengan cara ini pejabat akan selamat dari sorotan pelanggaran, walaupun sebenarnya melepaskan diri dari pelanggaran tetapi dengan cara melanggar azaz kepatutan.

Bagaimana dengan penyelamatan atas nama lembaga. Inipun menjadi persoalan baru, karena hakekat dari Dinas Pendidikan seyogyanya dikelola oleh orang yang faham dengan azaz-azaz pendidikan. Bahkan memahami filosofi pendidikan. Pertanyaannya adalah apakah ada jaminan mereka yang memiliki kemampuan kependidikan yang baik, akan mampu memimpin dinas pendidikan dengan baik. Secara teoritis “ya”, walaupun pada tataran praksis banyak variabel yang mempengaruhi apakah seseorang yang memiliki kemampuan kependidikan akan lebih baik jika memimpin dinas pendidikan. Namun demikian paling tidak mereka yang memiliki kemampuan kependidikan akan mudah memahami “roh” dari Dinas Pendidikan, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki latar belakang kemampuan kependidikan. Namun karena ini wilayah politis sehingga sering lebih dikedepankan pertimbangan dukung mendukung, dengan berlindung pada dalil “pemimpin itu yang penting manajemennya, bukan latar pendidikannya”. Maka sempurnalah pihak ketiga dapat dimanfaatkan dengan dalil penyelamatan.

Pertanyaan filosofis yang muncul adalah bagaimanakah nasib negeri ini kelak dikemudian hari, jika sesuatu persoalan diserahkan kepada bukan ahlinya. Untuk menjawab semua ini kembali kepada hatinurani kita masing-masing. Semoga dalam Pemilu yang lalu dan yang akan datang untuk memilih pemimpin bangsa ini kita dapat menggunakan pertimbangan yang matang sebelum menjatuhkan kepada siapa pemimpin itu. Amin……………..

Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 04:33:56 | Permalink | No Comments »

Saturday, February 28, 2009

GURU GOOGLE (G2)

Suatu hari seorang guru dengan kaca mata sengkleh di hidungnya memasuki kelas. Baru saja meletakkan media pembelajaran di atas meja kelas, seorang anak mengangkat tangan ingin menanyakan sesuatu kepada guru berkaitan dengan materi pelajaran hari ini. Mendengar pertanyaan murid tadi Pak Guru bingung, mau jawab apa, karena pertanyaan itu asing baginya. Seorang murid lain mengangkat tangan, mengajukan diri untuk membantu Pak Guru menjawab pertanyaan temannya tadi. Dengan sedikit berat beliau mengiakan. Ternyata sang murid terakhir tadi menjelaskan bahwa pertanyaan itu berasal dari sumber internet milik Google. Pak Guru tersipu malu, dalam hati beliau menggerutu “sialan itu Google”.

Peristiwa di atas sebagai ilustrasi bagaimana peran media elektronik begitu deras menerpa dunia ilmu pengetahuan (baca: pendidikan). Anak didik kita pada masa sekarang sangat merdeka untuk mendapatkan informasi ilmu pengetahuan dari manapun. Sementara guru sering terjebak dengan rutinitas keseharian, dan lebih celaka lagi terjebak dengan tergantung kepada buku satu sumber saja. Buku tersebut seolah ”kitab Suci” yang harus dikuasai murid, dengan mengabaikan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, belum banyak guru mengetahui bahwa Pluto tidak lagi masuk planet, karena perkembangan ilmu pengetahuan menyatakan Pluto bukan termasuk planet. Kemajuan teknologi yang demikian ini membuat dunia pendidikan berpacu dengan waktu. Ada segi positif, walaupun ada juga sisi negatifnya. Sisi positif yang dapat diambil adalah; bagi mereka yang aktif, termasuk guru, akan mendapatkan begitu banyak sumber informasi guna memperkaya bahan ajar yang akan disampaikan di muka kelas. Sumber informasi yang diperoleh tidak harus membeli buku, tetapi cukup dengan rajin menjelajah dunia maya. Negatifnya; banyak orang malas berfikir karena semua yang dipikirkan toh sudah ada di dalam kotak program elektronik dengan apapun namanya. Keadaan ini tentunya akan memupuk budaya malas bagi kebanyakan kita. Gegap gempitanya dunia ilmu pengetahuan serupa ini memacu guru untuk setiap hari rajin mencari informasi melalui media jelajah elektronik, dengan berbagai sumber. Jika tidak, maka murid akan beralih kepada papan layar Google, Youtube, Yahoo, dan lain sebagainya. Mereka tidak lagi mempercayai guru di muka kelas. Guru tidak lebih berperan sebagai pelengkap penyerta, yang suatu saat mereka tinggalkan. Untuk itulah sangat dianjurkan kepada guru untuk selalu belajar teknologi informasi, seberat apapun. Karena jika itu mereka tidak lakukan, maka lambat laun mereka akan ditinggalkan untuk dilupakan oleh siswanya. Arus deras serupa ini akan menerpa kita semua, termasuk didalamnya Guru dan Orang Tua. Tuntutan terhadap orang tua untuk menyediakan sarana, atau paling tidak dana untuk membayar akses terhadap teknologi, sudah menjadi tuntutan. Contoh kecil, anak SMA/MA untuk saat ini tinggal beberapa persen saja yang tidak mengantongi peralatan telekomunikasi masa kini. Kewajiban guru untuk menguasai kemudian mentransfer kemampuan penguasaan teknologi informasi kepada peserta didik, juga merupakan sesuatu keharusan. Namun ada rambu-rambu etika yang tidak boleh dilupakan oleh guru dalam melakukan ini semua. Etika berselancar didunia maya harus juga ditanamkan kepada peserta didik untuk tidak memasuki wilayah terlarang. Sukur pemerintah menyadari ini, sehinga wilayah-wilayah terlarang itu terkunci dan tidak semua orang dapat membukanya. Namun karena sifat bawaan dari peserta didik yang masih muda dan berkembang, mereka selalu ingin mencari dan mencoba terus, termasuk membuka situs-situs terlarang. Semua ini dianggap mereka adalah tantangan. Disini peran guru tidak tergantikan, yaitu sebagai pembimbing moral (moral guidance) bagi anak didiknya. Dengan kata lain, jika guru ingin menugasi siswanya untuk jelajah informasi di dunia maya, tidak hanya memerintahkan begitu saja. Tetapi harus jelas apa dan bagaimana tugas yang akan mereka kerjakan. Ternyata kemajuan teknologi yang demikian pesat ini, ada celah yang tidak tergantikan oleh apapun dan siapapun kecuali guru dan orang tua. Yaitu penanaman nilai-nilai moral kepada peserta didik. Penanaman nilai-nilai ini tidak dapat dilakukan oleh ”guru google, guru yahoo, guru youtube”. Tetapi harus sosok guru yang riel datang di muka kelas. Sosok guru yang hadir secara fisik di muka kelas inilah yang merupakan benteng terakhir dari proses penyelenggaraan pendidikan. Relasi-relasi yang dibangun oleh guru dimuka kelas dalam proses pembelajaran, merupakan rajutan perisai bagi peserta didik dalam menginternalisasikan nilai ke dalam dirinya. Apapun perbaikan pendidikan, termasuk penganggaran, jika tidak menyentuh proses pembelajaran di muka kelas, maka usaha itu akan sia-sia belaka. Oleh sebab itu melalui tulisan ini, saya mengajak kepada kita semua agar melakukan pola percepatan peningkatan kualitas pendidikan melalui peningkatan kualitas pembelajaran yang digelar guru di muka kelas. Dengan cara memfasilitasi guru agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dari perencanaan sampai dengan evaluasi. Semakin kaya guru berimprovisasi dalam menggelar proses pembelajaran di muka kelas, maka akan semakin kaya informasi yang diberikan kepada murid. Dengan cara inilah Indonesia masa depan akan berjaya, bahkan mampu melampaui jamannya. Akan tetapi sebaliknya jika kita terlambat mengantisipasi dan melakukan tindakan percepatan peningkatan kualitas, maka kita akan tertinggal jauh di belakang negara terbelakang. Pilihan lain sudah tidak ada lagi, yang ada maju atau tidak sama sekali. Untuk itu mari kita berhenti saling mencari salah pada orang lain, tetapi sibuklah menjawab tantangan masa depan yang sudah di depan kelopak mata.

Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 12:43:15 | Permalink | Comments (1) »

Monday, February 23, 2009

PELAJARAN DARI MEDAN

PELAJARAN DARI
MEDAN

Oleh : Prof.Dr.Sudjarwo, M.S.

Pada saat mengikuti suatu acara di Jakarta saya dikejutkan dengan berita dari media elektronik bahwa di Medan ada peristiwa mengenaskan. Seorang Ketua DPRD menjadi “bulan-bulanan” massa yang beringas karena menuntut sesuatu, yang hanya pemimpinannya sendiri yang mengetahui apa sejatinya yang dituntut. Kedok pemekaran daerah menjadi menghalalkan untuk menghilangkan nyawa seseorang anak negeri ini yang tidak lain adalah pimpinan masyarakatnya sendiri.

 

Semenjak itu seluruh media di negeri ini mengekspose secara besar-besaran, bahkan cenderung berlebihan, menampilkan peristiwa itu ke pada publik. Bahkan terkadang lupa bahwa eksposenya justru membangkitkan dendam untuk membalas bagi pihak lain yang terkena, atau kelompok yang merasa dirugikan. Etika eksposepun dilanggar demi rating dari suatu pemberitaan.

 

Terlepas dari apa yang terkandung maksud di dalam hati para pelaku maupun para aktor intelektualnya, peristiwa serupa ini menunjukkan ada yang tidak beres dalam perjalanan bangsa ini.

 

Peristiwa Medan sebenarnya adalah serententan peristiwa panjang di negeri ini yang dikenal dengan “amok massa”. Konsep amok yang juga sudah menjadi kata literatur dunia ini, bercirikan seseorang menjadi begitu bringas tat kala berada di dalam kelompoknya. Walaupun perilaku itu berbeda sekali dengan kebiasaan sehari-harinya. “Peleburan” kepribadian ke dalam kelompok serupa ini bukanlah hal yang aneh dalam psikologi sosial. Namun menjadi begitu akut apabila faktor pendidikan tidak lagi memberi warna dominan dalam pembentukan kepribadian.

 

Ada sesuatu yang hilang pada dunia pendidikan di negeri ini, yaitu pendidikan budipekerti. Sehingga proses pendewasaan rasio hanya di dorong oleh akal, tidak disertai dengan budi. Akal budi yang distimulan oleh pendidikan budipekerti dalam proses pembentukannya, akan mendasari kepribadian seseorang dalam berperilaku atau bertindak. Pondasi yang kokoh ini akan membentuk kepribadian seseorang dalam perkembangan perilaku kelak kemudian hari.

 

Keluarga yang membiasakan pendidikan budipekerti, anak-anaknya paham sekali apakah orang tuanya setuju atau tidak dengan perilakunya, cukup melihat mimik muka atau ekor mata orang tuanya. Tidak perlu ada kalimat kasar yang keluar dari mulut orang tua, cukup dengan “bahasa badan” mereka sudah menangkap sinyal apa dari tampilan orang tuanya.

 

Pendidikan negeri ini yang berorientasi hanya kepada target kurikulum dan berujung pada Nilai Ujian Nasional saja, sering abai terhadap pembentukan kepribadian. Sekalipun kompetensi kepribadian menjadi syarat mutlak bagi profesi guru, namun dalam kenyataannya aplikasi  dan implementasi kompetensi kepribadian pada kehidupan nyata belum menunjukan sesuatu yang menggembirakan, bahkan dalam aplikasinya sering terdesak dengan mata pelajaran yang akan diikutkan pada ujian nasional.

 

Pendidikan etika moral lebih pada materi konasi, belum menyentuk afeksi secara baik. Akibatnya implementasi tatakrama, sopan santun, kearifan, kedamaian, dan masih banyak lagi sifat-sifat kepribadian manusia mulia atau luhur, tidak teraplikasi secara benar. Pendidikan moral sering hanya diselesaikan atau dieksekusi oleh Pendidikan Moral Pancasila saja, yang itu sebenarnya belum cukup. Apalagi jika penyampaiannya hanya berorientasi kepada domain konasi saja.

 

Peristiwa Medan adalah puncak gunung es yang terakumulasi ke atas, yang memiliki kaki-kaki penyanggah peristiwa yang multi komplek. Bangsa ini harus belajar dari peristiwa itu dan mau menyadari bahwa bangsa ini sedang sakit. Kita semua harus berhenti saling menyalahkan dan menghujat, tetapi ramai-ramailah introspeksi diri bahwa masing-masing kita mungkin ikut andil akan sakitnya bangsa ini.

 

Belumlah terlambat jika kita memulai dari diri kita sendiri, keluarga, kemudian masyarakat lingkungan kecil, menjadikan budipekerti sebagai sesuatu yang dikedepankan. Tatakrama, kesantunan, etika adalah sesuat yang universal dan sangat dijunjung tinggi pada masyarakat yang beradab. Keluhuran budi ini tidak dapat dibayar dengan uang berapun nilainya dan siapapun pemberinya.

 

Kita tidak perlu hanya orang pandai saja, akan tetapi juga orang yang santun, arif, dan beretika. Tanpa itu kita akan menjadi serigala bagi yang lainnya. Hukum sosial ini tidak terbantahkan, karena telah terbukti semenjak zaman Caesar di Roma, Ken Arok di Singosari, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingan pribadinya, termasuk membunuh siapapun dia.

 

Contoh-contoh sejarah masa lalu banyak yang dapat kita jadikan rujukan, bagaimana sebilah keris yang di buat oleh seorang Empu (pembuat keris) dapat mengharubiru Kerajaan Singosari. Demikian juga bagaimana segegam kekuasaan dapat meluluhlantakkan keberadaban manusia. Hampir semua kita mengutuk Israel dalam peristiwa Gaza, tetapi kita tidak sadar berperilaku israelia terhadap sesama.

 

Adalah belum terlambat bagi kita untuk mengatakan Peristiwa Medan adalah peristiwa terakhir dibumi Nusantara ini bagi cengkeraman nafsu kekuasaan terhadap kita. Mari kita semua kembali kepada Ibu Pertiwi untuk merajut persaudaraan antarkita dengan mengedepankan kesantunan, keberadaban, dan kearifan. Persoalan negara ini tidak akan selesai jika dihadapi dengan keberutalan, keberingasan, adu jotos. Tetapi akan terurai secara baik jika kita menghadapinya dengan hati yang jernih. Kejernihan hati adalah cermin kedewasaan rohani yang hakiki.

Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 08:34:45 | Permalink | Comments (1) »

Wednesday, January 14, 2009

SEKALI LAGI TENTANG ANGGARAN PENDIDIKAN

SEKALI LAGI TENTANG ANGGARAN PENDIDIKAN

Oleh : Sudjarwo

Guru Besar FKIP Unila

 

Membaca berita Lampung Post tanggal 8, dan 9 Januari 2009, terakhir Tajuk Lampung Post pada 10 Januari ; saya merasa gerah dan sedih. Bagaimana tidak; anggaran pendidikan untuk provinsi ini hanya 13,25 %, sementara perintah undang-undang dan keputusan hukum menyatakan untuk 2009 pemerintah harus mematuhi 20%. Yang menyedihkan lagi seorang wakil rakyat, - dan itu berarti wakil kita semua, -  di DPR D menyatakan tidak keberatan, bahkan peringatan Menteri Dalam Negeri diabaikan. Berbeda kalau urusan politik mereka “sowan” ke Depdagri, tetapi jika urusan memenuhi permintaan Depdagri mereka berdalih.

Urusan dalih mendalih dan bersilat lidah memang kita paling jago, apalagi kalau sudah duduk di legeslatif atau di eksekutif. Tinggal rakyat, khususnya saya, yang bengong-bengong, beda banget kalau minta dipilih waktu Pemilu, mereka mengumbar janji, bahkan menyiksa pohon pelindung untuk di paku agar gambar di lihat orang. Tetapi setelah terpilih dengan enak bersilat lidah untuk menghindar semua janji yang diucapkan, ataupun sesuatu yang untuk diperjuangkan. Bahkan tidak segan segan memakai kalimat yang justru menyakitkan kita sebagai pemilih mereka.

 

Kembali keurusan pendidikan, betul bahwa kualitas pendidikan tidak hanya tergantung kepada anggaran, tetapi juga peran partisipasi aktif masyarakat, orang tua, dan guru. Partisipasi dimaksud adalah keterlibatan yang bersifat total, bukan setengah-setengah. Mutu pendidikan tidak dapat diserahkan kepada guru semata, tanpa keterlibatan orang tua dan masyarakat. Namun juga tidak jalan kalau diurus sendiri oleh orang tua, atau masyarakat. Ketiganya harus sinergi secara bersama untuk mewujudkan mutu pendidikan. Tetapi kerja keras itu tidak mungkin menjadi berkualitas jika hanya berada pada tataran kerja rodi. Orang bijak dari jaman Majapahit sudah mengatakan ”Jer basuki mawa bea” artinya tidak ada sesuatu yang mau baik tanpa pengorbanan atau biaya. Jadi kita tidak bisa menyalahkan guru saja kalau nanti hasil UN rendah, sekolah rusak, guru tidak bermutu. Kalau anggaran pendidikan tidak menyentuh peningkatan proses pembelajaran di muka kelas. Model sinerji antara anggaran pendidikan, partisipasi, dan mutu pendidikan; adalah bersifat linier, dan dapat kita gambarkan sebagai berikut:

 

Model Pertama: Anggaran Pendidikan Besar, Partisipasi Tinggi, Mutu Pendidikan akan tinggi.

Model Kedua : Anggaran Pendidikan Kecil, Partisipasi Tinggi, Mutu Pendidikan akan ada pada garis rerata.

Model Ketiga : Anggaran Pendidikan Besar, Partisipasi rendah, Mutu Pendidikan akan rendah.

Model Keempat: Anggaran Pendidikan Kecil, Partisipasi rendah, Mutu Pendidikan akan hancur.  

 

Dari model di atas dapat kita analisis jika keberhasilan sekolah diukur dengan banyaknya siswa ”lolos” Ujian Nasional, maka pola yang akan kita peroleh ialah:

 

Pola pertama, Jika di Provinsi Lampung nanti banyak siswa yang ”lolos” mengikuti Ujian Nasional, maka itu adalah hasil kerja keras partisipasi guru, orang tua, dan masyarakat. Bukan karena anggaran pendidikan dari Provinsi, atau daerah. Oleh sebab itu sangatlah tidak wajar jika pihak pemerintah daerah dan wakil rakyat yang ada di DPRD untuk berkomentar tentang keberhasilan tersebut.

 

Pola kedua, Jika di Provinsi Lampung nanti masih banyak siswa yang tidak ”lolos” mengikuti Ujian Nasional, maka pemerintah daerah dan DPRD tidak etis menuntut guru, apalagi menuntut mereka untuk berbuat banyak, karena kewajiban peningkatan anggaran yang menjadi wajib bagi tugas pemerintahan dan ke-DPR- an tidak dipenuhi.

 

Pola ketiga, Jika di Provinsi Lampung nanti banyak siswa yang tidak ”lolos” mengikuti Ujian Nasional, maka kegagalan itu bukan hanya tanggung jawab guru, orang tua, dan masyarakat saja, tetapi yang lebih bertanggung  jawab adalah Pemerintah Daerah dan DPRD.

 

Sementara itu Ujian Nasional masih kontroversi sampai hari ini. Ada pihak yang mendukung, dengan segala argumentasinya, ada yang menentang juga dengan segala argumentasinya. Keduanya memiliki pengikut yang signifikan. Ada lagi wacana yang menetapkan tahun 2011 Ujian Nasional akan disinkronkan dengan Ujian Masuk Perguruan Tinggi.

 

Jika pemikiran yang ke tiga akan menjadi penguatan pada kebijakkan pendidikan pada masa depan, maka proses pembelajaran dimuka kelas menjadi kunci utama. Bagaimana pendidikan akan baik jika tanggung jawab penyediaan anggaran untuk perbaikan mutu pembelajaran tidak tersedia. Pemerintah pusat sudah merasa berbuat dengan menyediakan anggaran sertifikasi guru dan tunjangannya, sementara pemerintah daerah tidak jelas sudah berbuat apa untuk peningkatan mutu pembelajaran di muka kelas. Jika waktunya nanti banyak siswa yang tidak mampu memenuhi passing grade untuk masuk perguruan tinggi, jelas dosa ini yang akan menanggung adalah mereka yang tidak bersedia menyediakan anggaran pendidikan yang memadai.

 

Kita dapat memahami bahwa anggaran pendidikan tidak boleh merampas anggaran pihak lain, dan ini menjadi alasan pembenaran yang paling klasik. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah berapa peningkatan pertahun harus ditetapkan, dan pada tahun ke berapa pemenuhan anggaran harus terpenuhi sesuai undang-undang. Komitmen itu tampaknya yang tidak pernah terdengar oleh kita, yang ada justru argumentasi pembenaran untuk pengingkaran yang terkesan dicari-cari agar apa yang dikemukakan tampak benar adanya.

 

Pada waktunya nanti janganlah kita membebani sekolah dan guru pada target kelulusan untuk UN. Jangan lagi eksekutif dan legeslatif minta sekolah di wilayahnya harus lulus sekian persen, mengakibatkan kepala sekolah dan guru ketakutan sehingga berbuat apa saja, termasuk kecurangan, untuk mewujudkan ”mimpi” fatamorgana yang dititipkan kepada mereka. Tetapi begitu terbongkar kecurangannya, semua yang di atas, dari kepala dinas, kepala daerah sampai DPRD rame-rame mengutuk guru. Sementara kalau berhasil, semua ingin menjadi pahlawan. Memang Guru tetap saja bernasip sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Selamat berjuang Guru Ku semoga amalmu tercatat di surga. Amin…

 

Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 06:34:55 | Permalink | Comments (1) »

SELAMAT DATANG TAHUN BARU

SELAMAT DATANG TAHUN BARU

Oleh : Sudjarwo

Guru Besar FKIP Unila

 

Pada saat akhir tahun ini saya merasa begitu berat meninggalkannya, karena saya membawa gerbong teman-teman yang setia lembur sertifikasi sampai tidak kenal waktu. Kami hampir-hampir tidak mengenal kalender warna merah. Semua hitam dan kami habiskan waktu di depan komputer mengurusi nasib hampir tujuhribu guru.

Pada saat di tengah kesibukan mengentri data, ada salah seorang karyawan nyeletuk “tahun baru ini dua, tetapi rejeki satu”. Saya tersontak sadar bahwa tahun ini tahun baru islam dan tahun baru internasional secara bersamaan datang beriring. Membuat saya merenung apa yang sudah kita perbuat untuk dunia pendidikan.

 

Renungan itu makin menjadi dalam kalau menyimak lembar demi lembar kenangan setahun yang lalu. Ternyata kita belum berbuat banyak, tetapi baru berteriak banyak. Teriakanpun bukan nyaring tetapi serak-serak kering karena kehabisan enargi. Teriakanpun jenisnya hampir sama seperti koor, yaitu perubahan nasib guru, belum pada perubahan nasib anak didik. Sementara nasib mereka belum secara substansial tersentuh secara baik.

 

Penganggaran pendidikan 20% ternyata baru menyentuh tataran kesejahteraan guru, itupun belum semua. Sementara bagaimana proses pembelajaran di muka kelas, sama sekali belum tersentuh secara baik dan benar. Wacana sudah di gulirkan kemana-mana bahwa mutu pendidikan itu tidak hanya esensinya pada kesejahteraan guru saja, tetapi juga harus menyentuh bagaimana ketersediaan sarana dan prasarana dimuka kelas, sehingga proses pembelajaran dapat digelar.

 

Ada pengalaman menarik pada waktu melakukan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, ada seorang guru berteriak mengeluh, bagaimana mau mengajar dengan baik, sekolahannya tidak ada listrik, baru sekarang melihat “top lit” (maksudnya: Note Book) dan “alat sorot” (maksudnya: LCD), untung ikut PLPG. Semua peserta tertawa, tetapi kami instruktur menangis batin karena ada sisa pertanyaan “beginikah nasib negeri ini “?.  Sedih dan pilu rasanya jika melihat ketersebaran sarana pendidikan seperti ini. Bagaimana mau maju kalau negeri ini tidak memahami substansi mutu pembelajaran sebagai roh mutu pendidikan.

 

Pengalaman lain lagi juga menyedihkan di akhir tahun ini saat bicara mental melayani. Lagi-lagi saat pelatihan untuk guru yang seyogyanya mereka mendapatkan pelayanan dari panitia dan instruktur. Ternyata karena selama ini mereka selalu melayani apa yang diminta oleh birokrat setiap memberikan pelayanan, maka cara inipun dibawa-bawa saat ikut pelatihan. Mereka rame-rame sokongan uang untuk membeli sekedar minuman dan buah untuk instruktur. Sementara ada diantara mereka yang belum pernah memakan buah yang dibeli. Instruktur yang tidak jeli atau bermental mumpung seperti mendapat angin. Akhirnya terjadilah proses pembodohan pelayanan, padahal pelatihan itu sudah dibiayai semua oleh negara guna peningkatan mutu pendidikan. Pada saat mereka diingatkan justru protes. Jadi sempurnalah kelucuan yang tidak lucu ini.

 

Kebiasaan serimonialpun masih melekat pekat pada perilaku kita. Semua orang suka dengan acara serimonial, termasuk kita para pelaku pendidikan. Jika ada rekaman televisi untuk disiarkan kebiasaan kita semua ditata apik agar terkesan mewah, padahal dalam keseharian

bertolak belakang. Sehingga pada waktu acara apapun harus punya rekaman, minimal album kenangan. Akhirnya substansi yang menjadi inti pokok dari acara itu menjadi pudar. Mental inipun dibawa-bawa sampai pada tataran akademis.

 

Ternyata lembaran akhir tahun ini, walaupun dua kalender jatuh bersamaan bulan, kita masih harus prihatin dengan nasib dunia pendidikan kita. Belum banyak yang dapat kita lakukan untuk menuju pada peningkatan mutu. Bahkan di sisi lain masih tersisa pekerjaan rumah yaitu dengan adanya Undang-undang BHP untuk pendidikan. Penolakan terjadi dimana-mana, baik yang memahami, setengah memahami, dan belum memahami. Yang sudah memahami dengan argumentasi rasional mengemukakan alasan penolakan, yang setengah memahami berteriak sambil mencari tahu. Sedangkan yang belum memahami, takut dikatakan ketinggalan kereta sehingga ikut teriak, bahkan paling nyaring.

 

Inilah sisa-sisa pekerjaan yang harus kita selesaikan diantaranya persoalan lain yang sudah menunggu. Kita hanya bisa berdoa semoga negara ini tetap ”lestari” sampai kapanpun dan terhindar dari bencana kehancuran. Amin…..

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by Prof.Dr.Sudjarwo, M.S at 06:32:48 | Permalink | Comments (1) »