POLITIK atau NGAKALI
POLITIK atau NGAKALI
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar FKIP Unila
Membaca tulisan Kang Ajat (Djadjat Sudradjat) di harian ini edisi minggu, kenangan saya menjadi menerawang, baik ke masa lampau maupun masa yang akan datang. Paragraf tulisan itu pendek, tetapi karena ditulis oleh Jurnalis senior, menjadi begitu menghujam di benak saya, dan itu memang ciri tulisan beliau. Lengkap penggalan tulisan itu begini;
”Politik tak bermula dari kebencian. Tetapi, juga tak dari
rasa sayang. Ia berawal dari nalar untuk membangun
bangsa. Ia bisa asyik ditangan orang-orang terdidik.
Tapi, bisa hancur ditangan para bigot yang agresif.”
Tulisan itu membuat kita terpana jika dikaitkan dengan situasi masa lampau, kini, dan masa depan bangsa ini.
Pada masa lampau bangsa ini pernah berdarah-darah karena dibuat saling membenci antara kita sendiri sebangsa dan setanah air oleh para pemimpinanya. Kita pernah memiliki masa dimana dengan memberi label organisasi terlarang tertentu, baik itu kanan, apalagi kiri, kepada sesama anak bangsa, dapat memisahkan antara Bapak dengan Anak, antara Mertua dan Menantu, antara Suami dengan Istri, antara Kerabat dengan Handai Tolan. Kita masih merasakan sisa sisa jejak sejarah masa lampau dimana orang dapat dengan mudah ”di Burukan” (di tahan tanpa diadili di Pulau Buru), hanya karena perbedaan yang tidakjelas. Atas nama politik semua itu sah pada masanya.
Pada kurun waktu belum lama berselang, masih dalam hitungan saat kebelakang. Ada satu keyakinan bahwa perubahan akan terjadi jika politik tidak dijadikan panglima, akan tetapi ekonomilah yang dikedepankan. Ternyata ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan saudaranya yaitu politik. Politik menungganggi ekonomi, atau ekonomi menunggangngi politik, atau bahkan saling tunggang, menjadi tidak jelas lagi. Sehingga semula Bantuan Langsung Tunai yang begitu diharap sebagai pengentas kemiskinan ternyata berhutang kemiskinan pada generasi kedepannya. Begitu ini terkuak kepermukaan publik, semua dibuat tercengang, kaget serasa tak percaya, bagaimana mungkin yang semula dihembuskan sebagai kompensasi subsidi BBM ternyata dana utangan.
Wacana baru beberapa waktu lalu muncul adalah kata kualisi. Selepas pemilihan kursi legeslatif semua ini marak, yang ternyata ujung ujungnya adalah pembagian kekuasaan. Semula berseberangan ternyata setelah diiming-imingi kursi, berubah menjadi teman. Waktu ditanya dengan ringan jawabannya ”itu politik bung”. Orang awam menjadi bingung, membedakan antara politik dan menipu. Atau paling tidak antara politik dengan ”ngakali”. Untuk satu ini ada peristiwa yang membuat kita terkaget-kaget, waktu saat pencalonan mengumbar janji, saat setelah duduk dan dilantik ditagih janjinya, dengan ringan mengatakan bahwa; itukan janji saya saat nyalon, setelah dilantik kan saya tidak pernah berjanji. Kita bisa membayangkan bagaimana kecewanya dan entah apalagi yang dapat mewakili rasa perasaan kita yang terluka.
Sekarang kita dihadapkan dengan masa depan melalui hajat nasional 8 Juli 2009. Disodorkan dengan empat pilihan, dengan pilihan pertama, kedua, dan ketiga, berisi calon. Pilihan keempat calonnya diri sendiri. Itupun kita bingung karena jika memilih diri sendiripun merasa menipu diri, karena sadar bahwa diri sendiripun tidak mampu menyelesaikan persoalan bangsa ini. Menyerahkan kepada orang lain, merasa bimbang, jangan jangan nanti diakali. Kemana kita harus mengadu.
Memang berpolitik yang cantik lagi santun bagi kebanyakan orang tinggal slogan, karena seperti apa wujudnya tidak ada batasan yang jelas. Justru yang dipertontonkan setiap hari seolah kita serigala bagi serigala lainnya. Terkadang tampak akrab sebelum menemukan mangsa. Tetapi begitu mangsa terhidang, maka adu kuat dan adu taring menjadi unjuk tampilan. Semua harus menyingkir dengan cara apapun, termasuk cara-cara ngakali, yang penting saya harus kenyang karena saya yang berkuasa.
Tatkala pikiran ini saya sampaikan dan diskusikan dengan kerabat, ternyata dengan ringan beliau mengatakan antara politik dan ngakali itu beda tipis saja, atau dengan bahasa anak muda sekarang sebelas dua belas saja.
Mendengar komentar itu saya terperanjat bagaimana jadinya bangsa ini jika tidak lagi mampu membedakan antara politik dan ngakali. Untuk apa pesta demokrasi lima tahunan jika hanya untuk ngakali. Semua ini berpulang kepada kita semua untuk menjadi cerdas sehingga tidak diakali terus menerus. Selamat menjadi pemilih yang baik sehingga dapat menentukan nasib masa depan bangsa.